Nama Program Deskripsi
Tes Berhitung 45 Detik Digunakan untuk melatih ketrampilan/kecepatan dalam melakukan operasi hitung dalam waktu 45 detik
Tes Berhitung 60 Detik
Digunakan untuk melatih keterampilan/kecepatan dalam melakukan operasi hitung dalam waktu 60 detik
Tes Hitung Pilihan Ganda
Digunakan untuk melatih operasi hitung matematika dalam bentuk soal pilihan ganda. Program ini dapat diset tingkat kesulitannya dan hasilnya dalam bentuk skor tertinggi akan ditampilkan
Persamaan Linier
Digunakan untuk melatih menyelesaikan persamaan linier. Tersedia tiga macam bentuk persamaan.
Tes Kecepatan:
Penjumlahan
Perkalian
Pembagian
Cara bermain
Suatu permainan mencari pasangan dari hasil operasi hitung yang sekaligus dapat digunakan untuk mengetes kecepatan dalam operasi hitung matematika
Tes Konsentrasi :
Penjumlahan
Perkalian
Cara bermain
Suatu permainan untuk mengetes ingatan yang sekaligus digunakan juga untuk melatih keterampilan operasi hitung
2. PROGRAM BANTU MATEMATIKA
Nama Program Deskripsi
Persamaan Linier
Program bantu untuk menyelesaikan persamaan linier 3 variabel
Operasi Matrik
Program bantu operasi-operasi matrik
Kalkulator Grafik
Kalkulator yang mampu untuk menggambar grafik
Kalkulator
Program bantu kalkulator perhitungan sederhana
Kalkulator ilmiah
Program bantu kalkulator perhitungan yang lebih canggih
Bil. Prima
Program bantu untuk mengecek bilangan prima
Konversi Bilangan Romawi
Program bantu untuk mengkonversi bilangan desimal ke bilangan romawi atau sebaliknya dan mengecek apakah bilangan romawi tersebut sudah betul
Persamaan kuadrat
Program bantu untuk menyelesaikan persamaan kuadrat
Kuis persamaan kuadrat
Tes pengetahuan anda dalam menyelesaikan persamaan kuadrat
Konversi bilangan
Program bantu untuk mengkonversi bilangan dari suatu sistem ke sistem bilangan yang lain
Konversi Panjang
Program bantu untuk mengkonversi dari suatu satuan panjang ke satuan panjang yang lain
Konversi Suhu
Program bantu untuk mengkonversi suhu ke celcius, fahrenheit dan Kelvin
Menghitung Hari
Menentukan hari, pasaran dan tanggal Hijriyah dari suatu tanggal Masehi yang diinputkan
Menghitung Umur
Berapa umur anda selengkap-lengkapnya
Teorema Pithagoras
Menentukan suatu sisi suatu segitiga siku-siku, jika diketahui 2 sisi yang lainnya.
Bidang Datar
Menunjukkan sifat-sifat bangun-bangun bidang datar. (Dibuat menggunakan GeoGebra)
Grafik Persamaan Kuadrat
Menunjukkan grafik persamaan kuadrat. (Dibuat menggunakan GeoGebra)
3. PERMAINAN/TEKA-TEKI MATEMATIKA
Nama Program Deskripsi program
Kotak Ajaib
Anda diminta mengurutkan angka pada suatu kotak 3x3. Untuk menjalankannya klik tulisan di kolom paling kiri.
Kotak ajaib 2
Sama dengan permainan kotak ajaib tetapi untuk permainan ini dilengkapi dengan memilih tingkat kesukaran. Untuk menjalankannya klik tulisan di kolom paling kiri.
Tebakan Bilangan
Anda diminta menebak suatu bilangan yang dibangkitkan oleh komputer dan anda diberi petunjuk dalam menebaknya. Untuk menjalankannya klik tulisan di kolom paling kiri.
Tebakan Bilangan Hi-Lo
Ini versi lain dari program tebakan bilangan yang di atas. Selain berapa kali anda mampu menebaknya juga diberitahukan waktu sampai anda berhasil menebaknya. Maksud dari Hilo adalah HIgh untuk nilai tertinggi dan LOw untuk nilai terendahnya.
Pembaca Pikiran
Anda diminta untuk mengambil suatu bilangan dalam pikiran anda dan komputer akan menebak bilangan yang anda pikirkan dengan memberikan pertanyaan yang anda harus jawab dengan betul. Untuk menjalankannya klik tulisan di kolom paling kiri.
Pembaca Pikiran
Program ini juga dapat membaca pikiran anda. Anda diminta untuk menentukan suatu bilangan 2 digit, kemudian anda diminta mengikuti langkah-langkah yang dianjurkan dan komputer akan menebak simbol yang sesuai dengan yang anda pikirkan. Cobalah!
Menara Hanoi
Permainan untuk memecahkan masalah menara hanoi dalam bentuk aplikasi internet. Untuk menjalankannya klik tulisan di kolom paling kiri.
Loncat katak
Permainan untuk menukarkan letak katak merah dengan katak hijau. Permainan ini dibuat dengan program Java.
Loncat katak (flash)
Permainan loncat katak versi Flash.
Teka-teki galon air
Ada tiga galon air yang hanya dapat memuat 3, 5 dan 8 liter air. Dua galon yang pertama kosong, dan yang terakhir terisi 8 liter. Dengan menuang air dari satu galon ke galon yang lain buatlah salah satu gelas berisi air tepat 4 liter. Untuk menjalankannya klik tulisan di kolom paling kiri.
Cryptarithms
Permainan untuk mengganti huruf-huruf dengan angka sehingga membentuk ungkapan aritmetika yang valid. Untuk menjalankannya klik tulisan di kolom paling kiri.
Sudoku
Permainan untuk mengisi kotak dengan angka sedemikian rupa sehingga setiap baris, setiap kolom dan setiap kotak 3x3 mengakomodasi angka-angka 1-9 tanpa ada perulangan. Permainan ini sangat terkenal di Jepang
4. PERMAINAN MENGASAH OTAK DAN INGATAN
Nama Program Deskripsi program
Tic-Tac-Toe
Permainan Tic-Tac-Toe dengan kotak 3x3 melawan komputer. Untuk menjalankannya klik tulisan di kolom paling kiri.
Tic-Tac-Toe 3 Dimensi
Permainan tic-tac-toe 3 dimensi melawan komputer atau teman anda. Siapa yang mendapat 4 bola yang sebaris/sekolom/sediagonal dialah pemenangnya. Untuk menjalankannya klik tulisan di kolom paling kiri.
Titik
Permainan melawan komputer dengan mengklik 2 radio button yang yang berdampingan untuk mendapatkan satu garis. Siapa yang mendapatkan lebih banyak kotak dialah pemenangnya Untuk menjalankannya klik tulisan di kolom paling kiri.
Bola Sama
Permainan dengan mencocokkan bola-bola dengan warna sama yang bersebelahan yang akan menghilangkan bola tersebut. Lebih banyak anda menghilangkan bola tersebut sekali jalan, skornya menjadi lebih tinggi. Selamat bermain. Untuk menjalankannya klik tulisan di kolom paling kiri.
Kotak
Permainan antara 2 orang untuk mendapatkan lebih banyak kotak. Permainan ini hampir sama caranya dengan permainan titik di atas tetapi yang ini untuk dimainkan 2 orang. Jadi setiap pemain bergiliran menjalankan seseai warnanya yang ditampilkan oleh komputer. Untuk menjalankannya klik tulisan di kolom paling kiri.
Konsentrasi
Anda diminta menebak letak suatu pasangan gambar. Ada 18 gambar yang anda harus tebak pasangannya. Jika anda berhasil akan diberitahukan berapa lama anda dapat menyelesaikannya. Untuk menjalankannya klik tulisan di kolom paling kiri.
Lompat Bola
Anda diminta membersihkan papan dengan cara melangkahkan bola di atas bola lain. Bola yang "dilangkahi" akan hilang. Jika ada lebih dari satu langkah, pilihlah yang mana anda mau melangkah. Anda akan menang dengan menyisakan hanya satu bola (Penyelesaian terbaik adalah dengan bola ini di tengah). Untuk menjalankannya klik tulisan di kolom paling kiri.
Memori
Anda diminta menebak letak suatu pasangan gambar. Ada 10 gambar yang anda harus tebak pasangannya. Permainan ini hampir sama dengan permainan konsentrasi di atas. Untuk menjalankannya klik tulisan di kolom paling kiri.
MasterMind
Berpikirlah untuk menemukan kombinasi warna yang tepat. Untuk mengganti warna klik lingkarannya berulangkali.
Mengingat gambar
Anda diminta mengingat suatu gambar, setelah itu anda diberi suatu potongan gambar dan anda diminta menebak potongan gambar itu ada di bagian mana. Permainan ini dibatasi oleh waktu (Gunakan Internet Explorer untuk membukanya!)
Gambar Jigsaw
Anda diminta untuk menyusun kembali potongan-potongan gambar yang sudah diacak.
Tempatkan
Anda diminta untuk menempatkan potongan-potongan kotak pada tempat yang tepat sehingga tersusun kembali menjadi bentuk yang utuh. Anda dapat menentukan berapa banyak potongan yang anda inginkan. Semakin banyak potongannnya semakin sulit penyelesaiaannya
Penyapu Ranjau
Permainan ini hampir sama dengan permainan minesweeper-nya Windows.
Tukang Parkir
Permainan untuk mengeluarkan mobil dari tempat parkir
Kubus ajaib
Simulasi permainan Rubik (kubus ajaib) di komputer
Hangman Matematika
Permainan ini menebak suatu kata yang berhubungan dengan matematika. anda mengetikkan huruf-huruf yang menyusunnya. Setiap huruf yang benar akan ditampilkan dan setiap kesalahan memilih huruf mengakibatkan gambar orang digantung. Selamat bermain.
Mata-mata dan InterPol
Permainan ini menebak suatu kota yang akan disinggahi oleh mata-mata internasional. Mata-mata ini selalu berpindah-pindah kota. Tugas anda sebagai agen interpol adalah menyinggahi kota yang sama dengan mata-mata tersebut untuk dapat menangkapnya.
5. PERMAINAN KETANGKASAN
Nama Program Deskripsi Program
Falcon Coba anda kendalikan pesawat Falcon ini (Gunakan Internet Explorer untuk membukanya!)
JS Gymkhana Mengendalikan mobil dalam sirkuit
Mario Permainan Marionette 2 (Gunakan Internet Explorer untuk membukanya!)
Packman Permainan Packman
Tetris Permainan Tetris (Gunakan Internet Explorer untuk membukanya!)
Frozen Bubble Permainan menembakkan gelembung ke gelembung yang di atas untuk menjatuhkan gelembung-gelembung dengan warna sama. Permainan ini dibuat dengan program Java sehingga browser anda harus sudah diinstali JRE (Java Runtime Environment) (Gunakan Mozilla Firefox untuk membukanya!)
6. MISTERI MATEMATIKA
Nama Program Deskripsi Program
Orang Hilang
Hanya dipindahkan, hilang satu orang. Kok bisa?
64 = 65 ? Bukti bahwa 64 = 65 ?
Hitung Titik Cobalah anda hitung titik hitam yang ada digambar.
Pandang Titik Pandangi terus titik hitam, maka kebut yang mengelilinginya semakin menjadi semakin kecil.
Beda warna Benarkah warna merahnya sama ?
Baca warna bacalah warnanya jangan tulisannya, loh!
garis sejajar coba lihat benarkah garis tersebut tidak sejajar..?
Lingkaran berputar Mau lihat lingkaran berputar
Cari wajah Coba anda hitung berapa wajah yang ada di gambar!
Cari kuda Coba anda hitung berapa kuda yang ada di gambar!
Tes mata Apakah anda dapat membaca tulisan yang ada di gambar?
Pohon pemimpin Lihatlah wajah-wajah yang ada di pohon ini.
BapakTua/Ibu Muda Coba tebak gambarnya, bapak tua atau kah ibu muda atau gambar yang lain?
Orang jalan Kumpulan huruf-huruf membentuk gambar orang berjalan.
Naik/turun Coba perhatikan, orang dalam gambar selalu naik tangga terus bisa kembali ke tempat semula? percaya.....
Segitiga Apakah anda bisa menyusun komposisi seperti ini?
Sabtu, 07 November 2009
Boikot Produk Yahudi
SILA BOIKOT PRODUK DI BAWAH. MEMBELI PRODUK YAHUDI SAMALAH SEPERTI MEMBANTU YAHUDI MEMBUNUH RAKYAT PALESTIN!
boikot
Apa hukum beli produk Yahudi?
Al Qaradhawi menegaskan:
“Ada jihad ekonomi, yaitu kita membuat fatwa, fatwa yang saya keluarkan bersama sejumlah ulama tentang keharaman jual-beli produk-produk Israel dan Amerika. Boikot, boikot semua produk-produk Israel dan Amerika adalah merupakan kewajiban setiap umat. Semua yang berbau produk Amerika.”
Beliau mengisyarakatkan bahwa kata “coca cola” berarti Amerika, Burger, Mc Donald, Pizza Hut, semua itu produk-produk Amerika.
“Setiap kali saya melihat produk-produk ini dada saya bergemuruh, jiwa saya meronta, kami ingin umat memboikot produk-produk ini. Bahkan cannel tv BBC, mobil sampai pesawat boing. Kami menghimbau pemerintah dan rakyat agar segera memboikot produk-produk ini, dan agar dibentuk semisal komisi atau panitia khusus untuk mengevaluasi sejauh mana efektifitas gerakan boikot dan penentuan skala prioritas boikot. Setiap produk yang ada gantinya, wajib diboikot. Apa yang menjadikan kita memiliki mobil produk Amerika, padahal kita mampu membeli mobil dari Jepang dan Jerman?? Kita tidak akan rugi sama sekali. Boikot ini hukumnya wajib bagi semua, baik sekala besar maupun kecil.”
Lebih lanjut beliau menegaskan:
“ Kami menghendaki umat Islam, laki-laki dan perempuan, ibu-ibu rumah tangga agar tidak membeli produk-produk Amerika. Boleh jadi ada produk-produk Israel dengan label lain, karenanya siapa yang mengetahui itu, wajib baginya untuk memboikot, hukumnya haram. Bahkan merupakan bagian dari dosa besar membeli produk-produk itu di masa sekarang ini. Ini bagian dari jihad yang ada dalam Islam, harus kita lakukan dan beritahu orang lain.”
Disember 18, 2007
FIQH KORBAN(KITAB UDHIYYAH)
Posted by ibnuabbas under FIQH | Label: FIQH, hukum, korban |
[4] Comments
HURAIAN RINGKAS BERKENAAN
IBADAH KORBAN DAN HUKUM-HUKUM BERKAITAN DENGANNYA
Firman Allah Ta’ala bermaksud:
‘Maka dirikanlah solat kerana Tuhanmu dan berqurbanlah”
(Al-Kautsar: 2)
“Dan kami jadikan unta (yang dihadiahkan kepada fakir miskin Mekkah itu) sebahagian dari syi‘ar agama Allah untuk kamu; pada menyembelih unta yang tersebut ada kebaikan bagi kamu; oleh itu sebutlah nama Allah (semasa menyembelihnya) ketika berdiri di atas tiga kakinya; maka apabila ia tumbang (serta putus nyawanya), makanlah sebahagian daripadanya, dan berilah (bahagian yang lain) kepada orang-orang yang tidak meminta dan yang meminta. Demikianlah Kami mudahkan dia untuk kamu (menguasainya dan menyembelihnya) supaya kamu bersyukur”
(Surah Al-Hajj: 36)
1. SEJARAH KORBAN
Sejarah Korban anak-anak Nabi Adam a.s – Habil dan Qabil
Firman Allah Ta’ala bermaksud:
Bacakanlah (Yaa Muhammad) kepada mereka akan cerita yang sebenarnya tentang dua orang anak Nabi Adam (yang bernama Habil dan Qabil) iaitu ketika keduanya mempersembahkan korban (kepada Allah0, maka yang seorang dari keduanya (Habil) diterima korbannya sedang yang lain (Qabil) tidak diterima korbannya – sebab itulah Qabil marah kepada Habil seraya berkata: “Nescaya kubunuh engkau!”
Sejarah Nabi Ibrahim a.s mengorbankan anaknya Nabi Ismail a.s
Firman Allah Ta’ala bermaksud:
“Wahai Tuhanku! Kurniakanlah kepadaku (anak) daripada golongan orang-orang yang soleh. Maka kami (Allah) gembirakan dia dengan (mendapat) anak yang penyantun. Tatkala sampai (umur) sianak boleh berusaha, berkata Ibrahim: “Hai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam tidur (mimpi) bahawasanya aku akan menyembelih engkau, oleh sebab itu lihatlah (fikirlah) apa pendapatmu?” (Sianak yakni Nabi Ismail) menjawab: “Wahai bapaku! Buatlah apa yang diperintahkan kepadamu, nanti engkau akan mendapati aku – insyaAllah daripada golongan orang-orang yang sabar.”
(Al-Soffat: 100-102)
Untuk mengetahui kisahnya dengan lebih terperinci, tuan-tuan/puan-puan disarankan untuk membaca kitab-kitab tafsir yang mu’tabar. InsyaAllah ceritanya menarik untuk dijadikan I’tibar.
2. HIKMAH KORBAN
Menyembelih qurban juga merupakan amalan yang disukai oleh Allah Subahanhu wa Ta‘ala dan sebagai bukti serta keikhlasan kita dalam menghidupkan syi‘ar agama Islam. Ini jelas difahami dari firman Allah Ta‘ala yang maksudnya: “Daging dan darah binatang qurban atau hadyi itu tidak sekali-kali akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepadaNya ialah amal yang ikhlas yang berdasarkan taqwa daripada kamu”.
(Surah Al-Hajj:37)
Orang yang berkorban itu akan dikurniakan kebajikan (hasanah) sebanyak bulu binatang yang dikorban.
Titisan darah korban yang pertama adalah pengampunan bagi dosa-dosa yang telah lalu.
Darah korban itu jika tumpah ke bumi, maka ia akan mengambil tempat yang mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Dan banyak lagilah. Bila dapat hayati sejarah korban Habil & Qabil serta kisah Nabi Ibrahim & Ismail … kitakan dapat menghayati/menyelami hikmahnya.
3. DEFINISI KORBAN
Korban bermaksud haiwan yang disembelih kerana ibadah pada Hari Raya Adha (10 Dzulhijjah) dan hari-hari tasyriq iaitu pada 11, 12 dan 13 Dzulhijjah dengan tujuan untuk mendampingkan diri kepada Allah Ta’ala
(Syeikh Daud al-Fathoni, Furu’ al-Masail, Juz 1: 259).
4. HUKUM MELAKSANAKAN IBADAH KORBAN
Hukum asal ibadah korban itu adalah sunat mu’akkadah (sunat yang sangat dituntut). Jumhur ulama juga mengatakan ia adalah sunat bagi orang yang mampu. Makruh bagi orang yang mampu itu jika dia tidak melakukan korban. Walau bagaimanapun jika ditinggalkannya tanpa sebarang keuzuran, tidaklah dia berdosa dan tidak wajib dia mengqadhanya. Walaubagaimanapun ianya boleh menjadi wajib apabila dinazarkan. Maka secara ringkasnya, korban itu terbahagi kepada 2:
* Korban sunat (muakkad – yakni tersangat dituntut mengerjakannya)
* Korban wajib
Bagaimana korban boleh menjadi wajib? Binatang sembelihan bagi ibadat korban itu menjadi wajib apabila ia dinazarkan, sama ada:
* Nazar itu nazar yang sebenar (nazar hakikat) ataupun
* Nazar dari segi hukum sahaja, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya : “Sesiapa yang bernazar untuk mentaati Allah, maka hendaklah dia mentaatinya”. (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)
Apa yang dimaksudkan dengan nazar yang sebenar dan nazar dari segi hukum? Nazar sebenar/hakiki itu adalah dengan menyebut nama Allah atau menggunakan perkataan ‘nazar’. Sebagai contoh orang yang berkorban itu berkata: “Demi Allah wajib ke atasku menyembelih kambing ini sebagai korban”, ataupun dia berkata: “Aku bernazar untuk menyembelih kambing sebagai korban pada Hari Raya Haji nanti”.
Adapun bernazar dari segi hukum sahaja seperti seseorang itu berkata: “Aku jadikan kambing ini untuk korban”, ataupun dia berkata: “Ini adalah korban”, maka dianggap sama seperti bernazar yang sebenar kerana dia telah menentukan (ta‘ayin) binatang tersebut.
Binatang yang dinazarkan sebagai korban atau binatang korban wajib itu tidak boleh ditukar dengan yang lain walaupun dengan yang lebih baik. Apatah lagi dijual, disewakan atau dihibahkan (diberikan).
Sekiranya binatang korban wajib itu dijual oleh orang yang berkoban, maka hendaklah dia mendapatkannya semula daripada orang yang telah membelinya jika masih ada di tangan pembeli dan dia hendaklah memulangkan harga belian yang diterimanya. Jika tiada lagi di tangan pembeli, umpamanya sudah disembelihnya, maka wajib baginya mengadakan nilaian harga yang lebih mahal daripada harga waktu dia memiliki yang dahulu, dan hendaklah dia membeli semula dengan nilaian itu binatang korban yang sama jenisnya dan sama umurnya untuk disembelih pada tahun itu juga.
Jika luput dia daripada menyembelihnya, maka wajib ke atasnya menyembelih binatang korban wajib itu pada tahun hadapannya sebagai qadha yang luput itu. Jika harga binatang korban itu (yang sama jenis dan umur dengan yang dahulu) lebih mahal kerana naik harga dan harga nilaian itu tidak mencukupi untuk membeli binatang yang sama dengan yang dahulu itu hendaklah ditambahnya dengan hartanya yang lain. Begitulah juga hukumnya jika binatang itu tidak disembelih setelah masuk Hari Raya Adha dan binatang itu binasa dalam tempoh tersebut.
Jika binatang korban wajib itu rosak, umpamanya mati atau dicuri orang sebelum masuk waktu berkorban dan bukan kerana kecuaiannya, tidaklah wajib dia menggantinya.
Manakala jika ia dibinasakan oleh orang lain, maka hendaklah orang yang membinasakan itu mengganti harga binatang korban wajib itu kepada orang yang punya korban dan dia hendaklah membeli semula binatang yang sama seperti yang dahulu, jika tidak diperolehi binatang yang sama, hendaklah dibelinya yang lain sahaja sebagai ganti.
Adapun jika binatang korban wajib itu disembelih sebelum masuk waktu korban, wajiblah disedekahkan kesemua dagingnya dan tidak boleh bagi orang yang berkorban wajib itu memakan dagingnya walaupun sedikit dan wajib pula menyembelih yang sama dengannya pada hari korban itu sebagai ganti.
Jika binatang korban yang telah ditentukan dalam korban wajib itu menjadi cacat (‘aib) setelah dinazarkan dan sebelum masuk waktu menyembelihnya dan kecacatan binatang itu adalah cacat yang tidak boleh dibuat korban pada asalnya, maka tidaklah disyaratkan menggantinya dan tidaklah terputus hukum wajib menyembelihnya dengan adanya cacat tersebut. Bahkan jika disembelihnya pada Hari Raya Adha adalah memadai (boleh dibuat) sebagai korban.
Sekiranya binatang yang dalam keadaan cacat itu disembelih sebelum Hari Raya Adha hendaklah disedekahkan dagingnya itu dan tidak wajib menggantinya dengan binatang yang sama untuk disembelih pada Hari Raya Adha itu. Tetapi wajib bersedekah nilaian harga binatang yang disembelih itu.
Jika kecacatan itu berlaku setelah Hari Raya Adha dan disembelih dalam keadaan yang demikian, maka tidaklah ia memadai (tidak memenuhi syarat) sebagai korban, kerana ia telah menjadi barang jaminan selagi belum disembelih, dan wajib diganti dengan yang baru.
Tidak sah dibuat korban bagi orang yang hidup melainkan dengan izinnya, dan tidak sah juga dibuat korban bagi orang yang telah mati jika simati tidak berwasiat untuk berbuat demikian.
Orang yang membuat korban bagi simati dengan izinnya (yakni dengan wasiatnya) wajiblah atasnya bersedekah kesemuanya. Tidak ada bahagian untuk dirinya atau orang-orang dibawah tanggungannya (nafkah), kerana ianya merupakan orang yang menerima dan orang yang menyerah. (Matla al-Badrain)
Bapa atau datuk boleh melaksanakan korban bagi orang yang diwalikan seperti anak dan cucunya dengan diambil perbelanjaan daripada harta ayah atau datuk atau anak atau cucu itu sendiri.
5. WAKTU MELAKSANAKAN IBADAH KORBAN
Waktu penyembelihan korban bermula sesudah matahari terbit pada 10 Zulhijjah (Hari Raya Haji) dan sesudah kadar selesai solat dua rakaat solat hari raya dan dua khutbah pendek/ringan. Manakala yang afdhalnya adalah ketika matahari naik segalah. Waktu penyembelihan korban berlanjutan sehingga terbenamnya matahari 13 Zulhijjah.
Ringkasnya: 10 Zulhijjah – 13 Zulhijjah.
Jika binatang korban disembelih selepas berakhirnya hari Tasyriq (setelah berlalunya hari Tasyriq yang terakhir) sembelihan itu tidak dianggap sebagai korban kerana dilakukan setelah berlalu masa yang diharuskan. Tetapi bagi korban wajib (korban nazar) yang masih belum disembelih di dalam waktunya yang diharuskan, sehingga habis masa, ia wajib menyembelih binatang itu (walaupun diluar waktu) dan sembelihan itu dikira qadha.
(I’aanah at-Tholibin, Juz 2; hal: 331)
6. JENIS-JENIS BINATANG YANG BOLEH DIJADIKAN KORBAN SERTA SYARAT-SYARATNYA
Binatang yang sah disembelih untuk dibuat korban itu ialah binatang korban itu hendaklah binatang ternakan (an‘am) seperti:
* unta atau yang sejenisnya,
* lembu atau yang sejenisnya
* kerbau atau yang sejenisnya dan
* kambing atau yang sejenisnya seperti biri-biri dan kibasy.
Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:
Maksudnya:“Dan bagi tiap-tiap umat telah kami syari‘atkan ibadat menyembelih korban supaya mereka menyebut nama Allah sebagai bersyukur akan pengurniaanNya kepada mereka daripada binatang-binatang ternak yang disembelih itu”.(Surah al-Hajj: 34)
Seekor unta, lembu atau kerbau itu boleh dikongsi oleh tujuh orang sama ada daripada keluarga yang sama atau yang lain walaupun tidak semuanya bermaksud aqiqah, misalnya ada di antaranya bermaksud aqiqah dan yang lainnya kerana mahukan dagingnya sahaja ataupun daging korban. Ini dijelaskan dalam sebuah hadis:
Maksudnya:“Kami keluar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam (dari Madinah) mengucapkan tahlil (Lailahaillallah), dengan berniat untuk mengerjakan haji, maka Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh kami berkongsi pada unta dan lembu, setiap tujuh orang daripada kami bagi seekor badanah”.(Hadis riwayat Muslim)
Seekor kambing pula hanya untuk seorang sahaja tidak boleh dikongsikan. Jika dikongsikan seekor kambing itu untuk dua orang atau lebih, maka tidak sah korban tersebut.
Afdhalnya binatang yang dibuat korban itu yang berwarna putih, kemudian yang berwarna kuning, kemudian yang putih tetapi yang tiada bersih putihnya, kemudian yang sebahagian badannya berwarna putih, kemudian yang sebahagian berwarna hitam, kemudian berwarna hitam semuanya, kemudian yang berwarna merah semuanya.
Binatang itu hendaklah cukup umur. Dari Jabir bin Abdillah r.a, sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:
Maksudnya: “Jangan kamu menyembelih korban melainkan yang telah musinnah kecuali jika kamu sukar mendapatkannya, maka sembelihlah anak daripada biri-biri.” (Hadis riwayat Muslim)
Adapun musinnah itu ialah ats-tsaniy (yang gugur gigi hadapannya) daripada binatang ternakan unta, lembu dan kambing. Maka ukuran umur bagi binatang korban itu ialah:
*
o Unta yang gugur gigi hadapannya ialah yang telah sempurna umurnya lima tahun dan masuk tahun keenam.
o Lembu, kerbau dan kambing yang gugur gigi hadapannya ialah yang telah sempurna umurnya dua tahun dan masuk tahun ketiga.
o Manakala kambing biri-biri dan kibasy memadai yang berumur cukup satu tahun atau yang gugur gigi hadapannya walaupun belum cukup umurnya satu tahun dengan syarat telah melimpasi umurnya enam bulan.
(Al-Majmu‘ 8/286-287 dan I‘anah ath-Thalibin 2/518)
Dari Abu Hurairah r.a, Nabi saw bersabda bermaksud:“Binatang korban yang paling bagus adalah jadza kambing” (Hadith riwayat Termizi dan Ahmad)
Uqbah bin Amir telah bertanya kepada Rasulullah saw, maksudnya: “Wahai Rasulullah, aku mempunyai jadza. Rasulullah menjawab: Berkorbanlah dengannya.”(Hadith riwayat Bukhari dan Muslim)
Menurut Imam Syafie kalimah jadza dalam hadith-hadith diatas itu bermaksud kambing biri-biri yang berumur satu tahun.
Dan menurut Imam Nawawi: Keseluruhan ulama mazhab telah mengharuskan anak biri-biri yang berumur satu tahun (untuk korban) meskipun ia mendapat binatang lain ataupun tidak.
Didalam kitab Hasyiah al-Baijuri, Juz 2, halaman 306, ada menyebut “Mengikut pendapat yang rajih, apabila biri-biri yang belum sampai umur satu tahun tetapi telah bersalin giginya selepas ia berumur enam bulan maka boleh dibuat korban.”
Binatang jantan yang tidak banyak berkahwin lebih afdhal dari binatang betina. Sebaliknya binatang betina yang belum melahirkan anak adalah lebih afdhal daripada binatang jantan yang banyak berkahwin untuk disembelih sebagai ibadat korban.
~~~~~~~ oOo ~~~~~~~
Yang lebih afdhal berbuat korban bagi seseorang itu dengan seekor unta, kemudian seekor lembu, kemudian seekor kibasy, kemudian seekor kambing, kemudian berkongsi seekor unta atau seekor lembu dan tujuh (7) ekor kambing lebih afdhal dari seekor unta dan seekor lembu atau kerbau.
Binatang terafdhal untuk dijadikan korban ialah unta, kemudian lembu kemudian biri-biri dan kemudian kambing. Ini dinisbahkan dengan banyaknya daging kepada setiap jenis binatang.
Tujuh (7) ekor biri-biri untuk korban adalah lebih afdhal daripada tujuh (7) ekor kambing untuk korban. Manakala tujuh (7) ekor kambing adalah lebih afdhal daripada satu ekor unta untuk korban kerana bertambahnya taqarrubnya kepada Allah dengan banyaknya darah yang mengalir daripada sembelihan binatang korban.
~~~~~~~ oOo ~~~~~~~
Binatang korban itu hendaklah sihat (tidak berpenyakit) dan selamat daripada kecacatan atau aib yang boleh mengurangkan daging atau lemaknya atau anggota lain yang boleh dimakan. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:
Maksudnya: “Empat perkara yang tidak boleh ada pada binatang korban itu, lalu Baginda bersabda: “Buta yang nyata butanya, sakit yang nyata penyakitnya, tempang yang nyata tempangnya dan yang kurus dan lemah.” (Hadis riwayat Abu Daud)
Daripada hadis di atas dapat difahami bahawa binatang yang tidak sah dijadikan korban itu ialah:
a.
Binatang yang buta atau rosak matanya atau yang tidak dapat melihat sekalipun biji matanya masih ada. Jika matanya itu ada sedikit kecacatan seperti sedikit rabun tetapi ia masih boleh melihat, maka ia sah dibuat korban.
b.
Binatang yang jelas tempang kakinya yang mana jika ia berjalan bersama-sama sekumpulan kawan-kawan binatang yang lain di padang untuk mencari makan, ia tidak boleh ikut berjalan bersama dengan binatang-binatang itu, bahkan ia tertinggal jauh di belakang. Jika tempangnya itu sedikit iaitu tempang yang tidak menghalang daripada mengikuti kawan-kawannya, maka ia sah dibuat korban.
c.
Binatang yang nyata sakitnya sehingga menjadikan binatang tersebut kurus dan kurang dagingnya. Tetapi jika sakitnya itu sedikit dan tidak mengurangi dagingnya maka ia sah dibuat korban.
d.
Binatang yang kurus sama ada kerana sakit, gila atau kurang makan dan sebagainya.
e.
Binatang yang telinganya terpotong walaupun sedikit atau yang tidak bertelinga sejak dilahirkan kerana telah hilang sebahagian anggota yang boleh dimakan dan mengurangkan dagingnya. Tetapi tidak mengapa jika telinganya koyak atau berlubang dengan syarat tidak gugur daripada dagingnya, walaupun sedikit.
f.
Binatang yang terpotong ekornya walaupun sedikit atau terpotong sebahagian lidahnya atau yang terpotong suatu yang nyata daripada pahanya. Adapun yang dilahirkan tanpa berekor sejak dilahirkannya adalah sah dibuat korban. (Sabilal Muhtadin 2/227)
g.
Binatang yang terpotong ekornya walaupun sedikit atau terpotong sebahagian lidahnya atau yang terpotong suatu yang nyata daripada pahanya. Adapun yang dilahirkan tanpa berekor sejak dilahirkannya adalah sah dibuat korban. (Sabilal Muhtadin 2/227)
h.
Binatang yang gugur semua giginya sehingga menghalangnya makan rumput. Adapun yang tanggal sebahagian giginya dan tidak menghalangnya makan rumput dan tidak mengurangkan dagingnya (tidak kurus) ia boleh dibuat korban. (Muhammad Asy-Syarbibi, Al-Iqna’ fi hilli al-Faaz Abi Syuja’, Juz 2, halaman 280)
i.
Binatang yang berpenyakit gila atau yang kena penyakit kurap sekalipun sedikit.
j.
Binatang yang bunting kerana bunting itu mengurangkan dagingnya. (Al-Majmu‘ 8/293-2966 dan Mughni al-Muhtaj 4/520) Pendapat ini adalah muktamad. Mengikut Ibn al-Rif’ah memadai korban daripada binatang yang bunting. Bagi binatang yang baharu beranak boleh dibuat korban berdasarkan pendapat Ibnu Hajar dalam Tuhfah dan Ar-Ramli dalam Nihayah, manakala mengikut pendapat Khatib Syarbini dalam Mughni bahawa binatang tersebut tidak memadai dibuatkan korban. (Sabilul Muhtadin 2/213)
Binatang yang harus dibuat korban itu tidak kira samada jantan atau betina atau khuntha.
Binatang yang dikasi, sah dan harus dibuat korban, kerana dengan dikasi tubuhnya semakin bertambah gemuk. (Muhammad Asy-Syarbini, Al-Iqna’ fi hilli al-Faaz Abi Syuja’, Juz 2, halaman 280)
Tambahan: Ibnu Abbas r.huma berpendapat bahawa adalah memadai korban itu hanya dengan “menumpahkan darah” walaupun dengan binatang seumpama ayam atau itik, sebagaimana yang dikatakan oleh Midaani. Syeikh (guru) bagi Syeikh al-Bajuri menyuruh supaya bertaqlidkan kepada pendapat Ibn Abbas ini dan beliau mengqiaskan ‘aqiqah keatas korban dan menyuruh sesiapa [yang tak mampu] yang memperolehi anak membuat aqiqah dengan ayam jantan berdasarkan kepada mazhab Ibn Abbas. (Hasyiah al-Allamah Baijuri & Matla al-Badrain) – Yang ni bagi mereka yang tersangat tak mampu.
7. CARA MENYEMBELIH BINATANG KORBAN
Cara menyembelih binatang korban itu ialah dengan memotong kesemua halqum dan mari’ sehingga putus dengan alat yang tajam seperti pisau (bukan tulang atau kuku). Halqum itu ialah tempat keluar masuk nafas dan urat mari’ itu pula ialah tempat laluan makanan dan minuman yang terletak di bawah halqum.
Adalah wajib bagi orang yang menyembelih itu memotong halqum dan mari’ itu. Jika ditinggalkan sebahagian daripada halqum atau mari’ itu (belum putus) dan mati binatang tersebut dalam keadaan yang demikian, maka tiada sempurna sembelihan itu dan ia adalah dikira bangkai. Begitu juga jika telah berhenti gerak binatang yang disembelih itu padahal halqum atau mari’ belum putus, kemudian dipotong semula halqum atau mari’ yang tertinggal itu, maka yang demikian itu pun adalah menjadi bangkai (tidak boleh dimakan).
Disyaratkan binatang yang disembelih itu ada hayat mustaqirrah ketika mula-mula disembelih iaitu ia akan hidup jika tidak disembelih ketika itu. Di antara tanda adanya hayat mustaqirrah itu ialah kuat geraknya ketika dipotong halqum dan mari’nya, dan menyembur darahnya. Mengikut Imam An-Nawawi memadai dengan kuat geraknya ketika disembelih.
Ketika hendak menyembelih binatang korban, sunat dibaca seperti berikut:
Allahu akbar! Allahu akbar! Allahu akbar! Bismillah, Allahuma solli ‘ala Muhammad, Allahumma haazihi minka wa ilaika fataqabbal minni, Allahu akbar! Allahu akbar! Allahu akbar! Walillahil hamd
Maksudnya: Allah Maha Besar! Allah Maha Besar! Allah Maha Besar! Dengan Nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Ya Allah Ya Tuhanku kurniakan selawat dan rahmat keatas Sayyidina Muhammad. Ya Allah ya Tuhanku, Ini korban daripada Engkau dan kembali kepada Engkau, maka terimalah korban daripada hamba. Allah Maha Besar! Allah Maha Besar! Allah Maha Besar! Dan kepada Allah lah kembali segala pujian.
Binatang yang panjang lehernya seperti unta, sunat disembelih di pangkal leher yang bawah (berhampiran dada) dengan memotong halqum dan mari’, kerana mengikut sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Yang demikian itu juga akan memudahkan roh binatang itu keluar. Sementara binatang yang pendek lehernya seperti lembu, kerbau dan kambing disembelih di hujung leher (yang atas).
Sunat disembelih lembu, kerbau atau kambing dengan dibaringkan binatang itu di atas tanah sebelah rusuk kirinya dan diikat kakinya, sementara kaki kanannya bebas lepas tanpa diikat supaya binatang itu dapat berehat dengan menggerakkan kaki kanannya itu. Sementara unta pula, sunat disembelih dengan didirikan binatang itu. Jika tidak mampu untuk disembelih dalam keadaan unta tersebut berdiri, maka sembelihlah dalam keadaan unta itu duduk. (Mughni al-Muhtaj: 4/341)
Sunat ditajamkan mata pisau bagi sembelih dan disembelih dengan kuat bersungguh-sungguh dan mengadap kiblat oleh yang menyembelih dan dihalakan ke kiblat akan binatang yang akan disembelih itu kerana kiblat itu semulia-mulia pihak.
Sunat diberi binatang itu minum sebelum ia disembelih. Kemudian sunat dibaringkan binatang itu dengan keadaan lemah lembut. Jangan diasah pisau sembelih dan jangan disembelih binatang yang lain di hadapan binatang yang akan disembelih itu.
Sunat dibiarkan binatang itu setelah disembelih sehingga ia mati.
Untuk kupasan lebih terperinci mengenai sembelihan, sila rujuk pada kitab-kitab feqah mengenai bab sembelihan.
8. PENAGIHAN DAGING KORBAN .
Daging Korban Wajib:
Bagi korban wajib (korban nazar), maka yang demikian itu wajib disedekahkan semua daging sembelihan itu termasuk kulit dan tanduknya.
Dan haram atas orang yang berkorban wajib itu memakan daging tersebut walaupun sedikit. Jika dimakannya daging tersebut, maka wajib diganti kadar yang telah dimakannya itu, tetapi tidak wajib dia mentembelih binatang lain sebagai ganti.
Jika orang yang berkorban itu melambat-lambatkan pembahagian daging korban wajib tersebut sehingga rosak, maka wajib ke atas orang yang berkorban itu bersedekah dengan harga daging itu dan tidaklah wajib dia membeli yang baharu sebagai gantinya kerana telah dikira memadai dengan sembelihan tersebut.
Jika daging korban itu ialah korban disebabkan wasiat daripada seseorang yang telah meninggal dunia, maka tidak boleh dimakan dagingnya oleh orang yang membuat korban untuknya dan tidak boleh dihadiahkan kepada orang kaya kecuali ada izinnya.
Daging Korban Sunat:
Sebagaimana yang kita ketahui berkorban itu hukumnya sunat mu’akkadah (sunat yang sangat dituntut). Jumhur ulama juga mengatakan ia adalah sunat bagi orang yang mampu. Makruh bagi orang yang mampu itu jika dia tidak melakukan korban. Walau bagaimanapun jika ditinggalkannya tanpa sebarang keuzuran, tidaklah dia berdosa dan tidak wajib dia mengqadhanya.
Sunat bagi orang yang empunya korban itu memakan sebahagian daripadanya. Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala yang bermaksud : “Maka makanlah daripadanya dan beri makanlah kepada orang-orang yang sangat fakir”. (Surah Al-Hajj: 28)
Afdhalnya yang dimakan itu ialah hatinya, kerana telah diriwayatkan bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah makan sebahagian daripada hati binatang korbannya, tetapi makan di sini bukanlah bererti dia wajib memakannya.
Berdasarkan kepada ayat di atas, para ulama berpendapat bahawa selain daripada sunat dimakan, wajib pula disedekahkan sebahagian daripada daging korban sunat itu dalam keadaan mentah lagi basah kepada orang-orang fakir atau miskin yang Islam.
Ini bererti setiap orang yang berkorban sunat itu wajib menyediakan sebahagian daripada daging korbannya itu untuk disedekahkan kepada orang fakir dan miskin. Tidak memadai jika daging-daging korban itu dihadiahkan keseluruhannya kepada orang-orang kaya misalnya. Hal inilah yang wajib diketahui oleh setiap orang yang berkorban.
Harus bagi orang yang berkorban itu membahagikan daging korbannya kepada tiga bahagian; satu pertiga (1/3) untuk dimakan, satu pertiga (1/3) untuk disedekahkan kepada fakir dan miskin dan satu pertiga (1/3) lagi untuk dihadiahkan kepada orang kaya.
Namun yang afdhalnya adalah disedekahkan semuanya, melainkan dimakannya sedikit sahaja iaitu kadar beberapa suap untuk mengambil berkat daripadanya, kerana yang demikian itu lebih mendekatkan diri kepada taqwa dan jauh daripada sifat mementingkan diri sendiri.
Sekalipun sah korban sunat seseorang itu, jika dimakan kesemua daging korbannya dan tiada sedikit pun disedekahkan kepada orang fakir atau miskin, tetapi wajib didapatkan atau dibeli daging-daging yang lain kadar yang wajib disedekahkan sebagai ganti.
Memberikan daging korban sunat sebagai hadiah kepada orang kaya Islam adalah harus. Walau bagaimanapun hadiah itu setakat untuk dimakan sahaja, bukan untuk tujuan memilikinya. Ini bererti dia tidak boleh menjualnya, menghibahkannya atau sebagainya kecuali menyedekahkannya kepada fakir atau miskin. Berlainan halnya dengan orang fakir dan miskin, di mana daging yang disedekahkan kepadanya itu adalah menjadi milik mereka. Mereka diharuskan menjual daging tersebut atau menghibahkan (memberikan) kepada orang lain.
Satu perkara lagi yang wajib kita ketahui ialah hukum haram menyedekah dan menghadiahkan daging korban kepada orang kafir sekalipun dia kaum kerabat, sama ada ia korban wajib atau sunat sekalipun sedikit kerana ia adalah perkara yang berhubung dengan ibadat. Didalam kitab Matla’ al-Badrain: 81 “… haram hukumnya memberi, menghadiahkan atau menjual daging qurban tersebut kepada orang bukan Islam, sekalipun fakir miskin itu terdiri daripada kafir zimmi”. Oleh sebab itu, sekiranya ada bahagian daging tersebut yang diberikan, dihadiahkan atau dijual kepada orang bukan Islam, maka wajib diganti dengan daging yang lain sekira-kira menyamai kadar berkenaan.
Kulit atau daging binatang korban itu haram dijadikan upah kepada penyembelih, tetapi harus diberikan kepadanya dengan jalan sedekah jika penyembelih itu orang miskin atau hadiah jika dia bukan orang miskin.
Sepertimana yang dijelaskan di atas, bahagian yang wajib disedekahkan itu hendaklah ia daging yang masih basah dan mentah. Ini bererti tidak memadai jika bahagian yang disedekahkan itu bukan daging seperti kulit, hati, tanduk dan sebagainya. Begitu juga tidak memadai jika daging tersebut dimasak kemudian dipanggil orang-orang fakir dan miskin untuk memakannya kerana hak fakir dan miskin itu bukan pada makan daging tersebut, tetapi adalah memiliki daging berkenaan dan bukan memilikinya dalam keadaan yang telah dimasak.
9. MENYEMBELIH BINATANG KORBAN DI LUAR NEGERI DAN DAGINGNYA DIAGIHKAN KE NEGERI YANG LAIN
Apa yang dimaksudkan dengan memindahkan daging korban itu ialah memindahkan daging korban dari negeri tempat penyembelihannya ke negeri lain, supaya daging korban itu dibahagi-bahagikan kepada mereka yang berhak di negeri berkenaan itu.
Adakah harus bagi orang-orang tempatan berwakil untuk berkorban di luar negeri dan daging korban itu dipindahkan daripada tempat korban ke negeri atau daerah lain?
As-Sayyid Al-Bakri Ad-Dumyathi, Pengarang Hasyiah I‘anah At-Thalibin menjelaskan bahawa telah dijazamkan dalam An-Nihayah bahawa haram memindahkan daging korban daripada tempat berkorban itu seperti mana juga zakat, sama ada korban sunat atau wajib. Adapun yang dimaksudkan daripada korban sunat itu ialah bahagian yang wajib disedekahkan kepada fakir miskin.
Manakala memindahkan wang daripada satu negeri ke negeri yang lain untuk membeli binatang korban adalah di haruskan seperti mana katanya yang ertinya : “Adapun memindah wang dirham daripada satu negeri ke negeri yang lain untuk membeli dengannya binatang korban di negeri tersebut maka ia adalah harus.” (I‘anat At-Thalibin: 2/380)
As-Syeikh Mohammad bin Sulaiman Al-Kurdi pernah ditanya :
“Sudah menjadi kebiasaan orang-orang Jawi (kepulauan Melayu) berwakil kepada seseorang untuk membeli na‘am (seperti lembu dan kambing) di Mekkah untuk dijadikan aqiqah dan korban sedangkan orang yang hendak beraqiqah atau berkorban itu berada di negeri Jawi. Adakah sah perbuatan sedemikian atau tidak, mohon fatwakan kepada kami.
Jawapan: Ya! Sah yang demikian itu dan harus berwakil membeli binatang korban dan aqiqah dan begitu juga untuk menyembelihnya sekalipun di negeri yang bukan negeri orang yang berkorban dan beraqiqah itu.” (I‘anah At-Thalibin: 2/381)
Dalam perkara ini pengarang Kitab Sabil Al-Muhtadin pula menyebutkan: “Kata Syeikhi Muhammad bin Sulaiman: Harus berwakil pada membeli na‘am akan korban pada negeri yang lain dan pada menyembelih dia dan pada membahagikan dagingnya bagi segala miskin negeri itu intaha. Maka iaitu zahir sama ada negeri Mekkah atau lainnya tetapi jangan dipindahkan dagingnya daripada negeri tempat berkorban kepada negeri yang lain maka iaitu haram lagi akan datang kenyataannya dan sayuginya hendaklah yang berwakil menyerahkan niat korban kepada wakil pada masalah ini wallahu ‘alam. (Sabil Al-Muhtadin: 214)
Katanya lagi jikalau berwakil seorang akan seorang pada berkorban di negeri lain kerana menghasilkan murah umpamanya hendaklah disedekahkan oleh wakil akan dagingnya bagi fakir miskin negeri itu dan janganlah dipindahkannya akan sesuatu daripada dagingnya daripada negeri itu kepada negeri yang berwakil melainkan sekadar yang sunat ia memakan dia itupun jika ada korban itu sunat (adapun) jika ada korban itu wajib maka wajiblah atas wakil mensedekahkan sekeliannya kepada fakir di dalam negeri tempat berkorban itu (dan haram) atasnya memindahkan suatu daripadanya ke negeri yang lain. (Sabil Al-Muhtadin: 216)
Berdasarkan perkataan para ulama seperti yang dinukilkan di atas, adalah jelas bahawa hukumnya harus berwakil untuk membeli binatang korban di negeri yang lain dan menyembelihnya serta membahagikan daging tersebut kepada fakir miskin di negeri berkenaan.
Adapun memindahkan daging korban daripada tempat sembelihan ke negeri yang lain itu adalah berhubungkait dengan hukum menyedekahkan daging korban itu:
I.
Jika korban itu adalah korban wajib yang mana kesemua dagingnya wajib disedekahkan kepada fakir miskin dalam keadaan mentah, maka haram hukumnya memindahkan daging korban berkenaan daripada tempat sembelihan. Inilah pendapat jumhur ulama Syafi‘eyah.
II.
Jika korban itu korban sunat di mana sebahagian daripada daging korban itu harus dihadiahkan atau dimakan oleh orang yang berkorban, maka bahagiannya (hak orang yang berkorban) itu sahaja yang harus dipindahkan ke negeri lain. Manakala bahagian yang wajib disedekahkan kepada fakir miskin itu wajib disedekahkan di tempat berkorban itu juga dan haram dipindahkan ke negeri lain.
(I‘anah At-Thalibin: 2:380)
Maka sebagi jalan keluar, adalah lebih munasabah menjalankan sembelihan korban bagi pihak yang berwakil terus sahaja ditempat-tempat atau negeri-negeri yang akan diagihkan daging korban itu. Dengan ini dapat dielakkan hukum pemindahan daging korban daripada tempat sembelihan ke negeri lain. Kalau diperhatikan sekarang terdapat egen-egen yang mengelolakan ibadah korban diluar Malaysia seperti di Kampuchea, Vietnam, Ambon dll, dimana urusan penyembelihan dan pengagihan daging korban dilakukan ditempat-tempat tersebut.
10.
HUKUM BERWAKIL MEMBELI DAN MENYEMBELIH KORBAN
Sepertimana kebiasaan di negara kita ibadat korban itu dilaksanakan dengan berkumpulan sama ada atas nama kementerian, jabatan, persatuan, kampung dan sebagainya. Kadang-kadang ibadat korban itu sudah menjadi projek tahunan bagi pihak-pihak yang berkenaan itu.
Jika dilihat daripada amalan kebiasaan bagi perlaksanaan ibadah korban itu, kumpulan tersebut akan menentukan wakil mereka untuk mengurus pembelian, penyembelihan binatang korban dan pengagihan dagingnya di pusat-pusat penyembelihan. Jika ditinjau dari segi hukum, perlaksanaan yang sedemikian itu melibatkan hukum wakalah iaitu berwakil.
11.
HURAIAN UMUM MENGENAI WAKALAH
Wakalah dari segi bahasa bererti menyerahkan kuasa, pengawasan, penjagaan dan pemeliharaan. Dari segi istilah fiqh pula ialah seseorang itu menyerahkan sesuatu perkara ketika hidupnya kepada orang lain agar melakukannya dalam hal-hal yang boleh diwakilkan.
Hukum wakalah adalah harus berdasarkan Al-Qur’an, sunnah dan ijma‘ ulama.
Wakalah mempunyai empat rukun iaitu:
i.
Muwakkil (orang yang berwakil)
ii.
Muwakkal (orang yang dijadikan wakil)
iii.
Muwakkal fihi (sesuatu yang diwakilkan)
iv.
Shighah (ijab dan qabul).
(I‘anah At-Thalibin: 3/100-101)
12.
SHIGHAH DALAM WAKALAH
Apa yang ingin dihuraikan di sini ialah rukun yang keempat iaitu shighah di mana perkara ini sangat penting diketahui demi menjaga keshahihan ibadah korban berkenaan.
Disyaratkan ijab ke atas orang yang berwakil itu dengan melafazkan sesuatu perkataan sama ada secara sharih (jelas atau terang) ataupun kinayah (yang tidak terang atau tidak jelas) seperti dalam kitabah (penulisan), persuratan atau dengan isyarat jika yang berwakil itu orang bisu yang boleh difahami, yang menyatakan bahawa orang yang berwakil itu adalah dengan keredhaan hatinya. (Majmuk: 14/197)
Ini bererti ada interaksi antara orang yang berwakil dengan orang yang diwakilkan yang dinamakan aqad. Namun orang yang dijadikan wakil itu tidak disyaratkan baginya qabul (ucap terima), kecuali di dalam keadaan tertentu seperti jika dalam perwakilan itu dengan upah. Contohnya orang yang berwakil itu mewakilkan seseorang untuk menjualkan sebidang tanahnya dengan harga sekian dan memberi upah kepada wakilnya itu. Maka dalam keadaan ini, wakil itu hendaklah melafazkan qabulnya sama ada dia menerimanya ataupun tidak. Adapun yang disyaratkan bagi orang yang dijadikan wakil itu ialah dia tidak menolak ucapan atau lafaz orang yang berwakil itu. Jika orang yang dijadikan wakil itu menolak ucapan tersebut, seperti dia berkata: “aku tidak terima” atau seumpamanya, maka batal dan tidak sah akad perwakilan itu.
Jika dilihat ketentuan hukum dalam bab wakalah dan dipraktikkan dengan cara kebiasaan yang tersebut di atas oleh sebahagian kumpulan yang berkorban itu ditakuti tidak menepati kehendak sebenar hukum wakalah. Pada kebiasaannya, orang-orang yang hendak menyertai ibadat korban akan mendaftarkan namanya dan membayar kadar tertentu bagi tujuan tersebut tanpa disertai dengan lafaz tawkil kepada wakil yang dilantik.
Amalan tersebut tidak memenuhi kehendak hukum berwakil kerana jika dilihat kepada tuntutan bab wakalah orang yang berwakil itu wajib melafazkan tawkilnya (akad) sama ada dengan lafaz yang sharih atau kinayah kepada wakil yang ditentukan bagi tujuan seperti membeli dan menyembelih binatang korban serta mengagihkan daging korban tersebut.
13.
MELANTIK WAKIL KEDUA
Dalam bab wakil ini, para ulama fiqh juga berpendapat bahawa orang yang dijadikan wakil itu harus mewakilkan lagi kepada orang lain untuk menjadi wakil yang kedua tanpa perlu mendapat izin daripada orang yang berwakil. Itu pun jika perkara yang diwakilkan itu tidak dapat dikerjakan oleh wakil itu sendiri, disebabkan dia tidak layak melakukannya atau tidak berkemampuan mengerjakannya. Akan tetapi jika sebaliknya, iaitu dia mampu untuk melaksanakan perkara yang diwakilkan ke atasnya itu, maka tidak harus baginya melantik orang lain menjadi wakil yang kedua melainkan dengan izin orang yang berwakil.
(Majmuk: 14/218)
14.
MEWAKILKAN SEMBELIHAN BINATANG KORBAN
Menurut hukum asal berkorban itu bahawa sunat binatang yang hendak dijadikan korban itu disembelih oleh orang yang berkorban itu sendiri, kiranya dia pandai menyembelih. Walaupun begitu boleh juga dia mewakilkan orang lain untuk menyembelih korban itu dan hadir ketika penyembelihannya. Afdhalnya wakil itu ialah orang Islam yang mengetahui akan hukum-hakam mengenai korban.
Keharusan berwakil dalam ibadah korban itu diambil daripada perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah berkorban dengan seratus ekor unta, di mana Baginda sendiri menyembelih – dengan tangan Baginda yang mulia – enam puluh tiga ekor, kemudian Baginda menyerahkan pisau penyembelih itu kepada Sayyidina Ali Karramallahu wajhah untuk menyembelih bakinya
15. PERSOALAN NIAT KORBAN
Disyaratkan orang yang berkorban itu berniat kerana korban ketika menyembelih, kerana ia ibadat dan harus juga mendahulukan niat itu sebelum menyembelih mengikut pendapat yang ashah.
Adalah memadai jika orang yang berwakil itu berniat ketika wakilnya menyembelih korbannya dengan hadir orang yang berwakil ketika itu. Dalam hal ini, niat orang yang berwakil itu adalah memadai dan wakil tidak perlu lagi berniat. Walau bagaimanapun adalah lebih baik orang yang berwakil itu, ketika menyerahkan korban, menyuruh wakilnya berniat bagi pihak dirinya ketika dia menyembelih korban tersebut.
Apa yang mesti diambil perhatian dalam hal berniat korban ini, ada baiknya ditentukan niat itu umpamanya sebagai korban sunat, bagi mengelakkan niat itu menjadi korban wajib, kerana haram bagi yang berkorban itu makan daripada daging korban wajib, bahkan wajib disedekahkan semua daging tersebut kepada fakir miskin.
Lafaz Niat Dan Tawkil Dalam Korban
Niat itu tempatnya di hati dan sunat melafazkannya dengan lidah. Niat bagi korban sunat itu ialah seperti berikut:
Maksudnya: “Sahaja aku melakukan korban yang sunat”
Contoh lafaz berwakil:
“Buatkan korban/udhhiyyah sunat untuk saya”, atau
“Belikan korban sunat untuk saya”, yang bermakna: “Sembelihkan untuk saya, niatkan untuk saya.”
Contoh terima wakalah:
“Aku terima.”
16. PENUTUP
Oleh kerana hukum berkorban itu sunat mu’akkadah dan mempunyai kelebihan- kelebihannya yang banyak, sayugia jangan dilepaskan peluang untuk membuat amalan korban ini.
Supaya korban itu sempurna, fahamilah hukum-hakam yang berkaitan dengan ibadah korban itu. Begitu juga mengambil perhatian dalam memenuhi tuntutan-tuntutan lain yang berkaitan seperti berwakil membeli dan menyembelih sebagaimana yang dijelaskan di atas supaya amalan berkorban itu benar-benar menepati syara‘.
Selamat Menjalani Ibadah Korban
Allahu akbar! Allahu akbar! Allahu akbar! Allahu Akbar Walillahilhamd
boikot
Apa hukum beli produk Yahudi?
Al Qaradhawi menegaskan:
“Ada jihad ekonomi, yaitu kita membuat fatwa, fatwa yang saya keluarkan bersama sejumlah ulama tentang keharaman jual-beli produk-produk Israel dan Amerika. Boikot, boikot semua produk-produk Israel dan Amerika adalah merupakan kewajiban setiap umat. Semua yang berbau produk Amerika.”
Beliau mengisyarakatkan bahwa kata “coca cola” berarti Amerika, Burger, Mc Donald, Pizza Hut, semua itu produk-produk Amerika.
“Setiap kali saya melihat produk-produk ini dada saya bergemuruh, jiwa saya meronta, kami ingin umat memboikot produk-produk ini. Bahkan cannel tv BBC, mobil sampai pesawat boing. Kami menghimbau pemerintah dan rakyat agar segera memboikot produk-produk ini, dan agar dibentuk semisal komisi atau panitia khusus untuk mengevaluasi sejauh mana efektifitas gerakan boikot dan penentuan skala prioritas boikot. Setiap produk yang ada gantinya, wajib diboikot. Apa yang menjadikan kita memiliki mobil produk Amerika, padahal kita mampu membeli mobil dari Jepang dan Jerman?? Kita tidak akan rugi sama sekali. Boikot ini hukumnya wajib bagi semua, baik sekala besar maupun kecil.”
Lebih lanjut beliau menegaskan:
“ Kami menghendaki umat Islam, laki-laki dan perempuan, ibu-ibu rumah tangga agar tidak membeli produk-produk Amerika. Boleh jadi ada produk-produk Israel dengan label lain, karenanya siapa yang mengetahui itu, wajib baginya untuk memboikot, hukumnya haram. Bahkan merupakan bagian dari dosa besar membeli produk-produk itu di masa sekarang ini. Ini bagian dari jihad yang ada dalam Islam, harus kita lakukan dan beritahu orang lain.”
Disember 18, 2007
FIQH KORBAN(KITAB UDHIYYAH)
Posted by ibnuabbas under FIQH | Label: FIQH, hukum, korban |
[4] Comments
HURAIAN RINGKAS BERKENAAN
IBADAH KORBAN DAN HUKUM-HUKUM BERKAITAN DENGANNYA
Firman Allah Ta’ala bermaksud:
‘Maka dirikanlah solat kerana Tuhanmu dan berqurbanlah”
(Al-Kautsar: 2)
“Dan kami jadikan unta (yang dihadiahkan kepada fakir miskin Mekkah itu) sebahagian dari syi‘ar agama Allah untuk kamu; pada menyembelih unta yang tersebut ada kebaikan bagi kamu; oleh itu sebutlah nama Allah (semasa menyembelihnya) ketika berdiri di atas tiga kakinya; maka apabila ia tumbang (serta putus nyawanya), makanlah sebahagian daripadanya, dan berilah (bahagian yang lain) kepada orang-orang yang tidak meminta dan yang meminta. Demikianlah Kami mudahkan dia untuk kamu (menguasainya dan menyembelihnya) supaya kamu bersyukur”
(Surah Al-Hajj: 36)
1. SEJARAH KORBAN
Sejarah Korban anak-anak Nabi Adam a.s – Habil dan Qabil
Firman Allah Ta’ala bermaksud:
Bacakanlah (Yaa Muhammad) kepada mereka akan cerita yang sebenarnya tentang dua orang anak Nabi Adam (yang bernama Habil dan Qabil) iaitu ketika keduanya mempersembahkan korban (kepada Allah0, maka yang seorang dari keduanya (Habil) diterima korbannya sedang yang lain (Qabil) tidak diterima korbannya – sebab itulah Qabil marah kepada Habil seraya berkata: “Nescaya kubunuh engkau!”
Sejarah Nabi Ibrahim a.s mengorbankan anaknya Nabi Ismail a.s
Firman Allah Ta’ala bermaksud:
“Wahai Tuhanku! Kurniakanlah kepadaku (anak) daripada golongan orang-orang yang soleh. Maka kami (Allah) gembirakan dia dengan (mendapat) anak yang penyantun. Tatkala sampai (umur) sianak boleh berusaha, berkata Ibrahim: “Hai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam tidur (mimpi) bahawasanya aku akan menyembelih engkau, oleh sebab itu lihatlah (fikirlah) apa pendapatmu?” (Sianak yakni Nabi Ismail) menjawab: “Wahai bapaku! Buatlah apa yang diperintahkan kepadamu, nanti engkau akan mendapati aku – insyaAllah daripada golongan orang-orang yang sabar.”
(Al-Soffat: 100-102)
Untuk mengetahui kisahnya dengan lebih terperinci, tuan-tuan/puan-puan disarankan untuk membaca kitab-kitab tafsir yang mu’tabar. InsyaAllah ceritanya menarik untuk dijadikan I’tibar.
2. HIKMAH KORBAN
Menyembelih qurban juga merupakan amalan yang disukai oleh Allah Subahanhu wa Ta‘ala dan sebagai bukti serta keikhlasan kita dalam menghidupkan syi‘ar agama Islam. Ini jelas difahami dari firman Allah Ta‘ala yang maksudnya: “Daging dan darah binatang qurban atau hadyi itu tidak sekali-kali akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepadaNya ialah amal yang ikhlas yang berdasarkan taqwa daripada kamu”.
(Surah Al-Hajj:37)
Orang yang berkorban itu akan dikurniakan kebajikan (hasanah) sebanyak bulu binatang yang dikorban.
Titisan darah korban yang pertama adalah pengampunan bagi dosa-dosa yang telah lalu.
Darah korban itu jika tumpah ke bumi, maka ia akan mengambil tempat yang mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Dan banyak lagilah. Bila dapat hayati sejarah korban Habil & Qabil serta kisah Nabi Ibrahim & Ismail … kitakan dapat menghayati/menyelami hikmahnya.
3. DEFINISI KORBAN
Korban bermaksud haiwan yang disembelih kerana ibadah pada Hari Raya Adha (10 Dzulhijjah) dan hari-hari tasyriq iaitu pada 11, 12 dan 13 Dzulhijjah dengan tujuan untuk mendampingkan diri kepada Allah Ta’ala
(Syeikh Daud al-Fathoni, Furu’ al-Masail, Juz 1: 259).
4. HUKUM MELAKSANAKAN IBADAH KORBAN
Hukum asal ibadah korban itu adalah sunat mu’akkadah (sunat yang sangat dituntut). Jumhur ulama juga mengatakan ia adalah sunat bagi orang yang mampu. Makruh bagi orang yang mampu itu jika dia tidak melakukan korban. Walau bagaimanapun jika ditinggalkannya tanpa sebarang keuzuran, tidaklah dia berdosa dan tidak wajib dia mengqadhanya. Walaubagaimanapun ianya boleh menjadi wajib apabila dinazarkan. Maka secara ringkasnya, korban itu terbahagi kepada 2:
* Korban sunat (muakkad – yakni tersangat dituntut mengerjakannya)
* Korban wajib
Bagaimana korban boleh menjadi wajib? Binatang sembelihan bagi ibadat korban itu menjadi wajib apabila ia dinazarkan, sama ada:
* Nazar itu nazar yang sebenar (nazar hakikat) ataupun
* Nazar dari segi hukum sahaja, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya : “Sesiapa yang bernazar untuk mentaati Allah, maka hendaklah dia mentaatinya”. (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)
Apa yang dimaksudkan dengan nazar yang sebenar dan nazar dari segi hukum? Nazar sebenar/hakiki itu adalah dengan menyebut nama Allah atau menggunakan perkataan ‘nazar’. Sebagai contoh orang yang berkorban itu berkata: “Demi Allah wajib ke atasku menyembelih kambing ini sebagai korban”, ataupun dia berkata: “Aku bernazar untuk menyembelih kambing sebagai korban pada Hari Raya Haji nanti”.
Adapun bernazar dari segi hukum sahaja seperti seseorang itu berkata: “Aku jadikan kambing ini untuk korban”, ataupun dia berkata: “Ini adalah korban”, maka dianggap sama seperti bernazar yang sebenar kerana dia telah menentukan (ta‘ayin) binatang tersebut.
Binatang yang dinazarkan sebagai korban atau binatang korban wajib itu tidak boleh ditukar dengan yang lain walaupun dengan yang lebih baik. Apatah lagi dijual, disewakan atau dihibahkan (diberikan).
Sekiranya binatang korban wajib itu dijual oleh orang yang berkoban, maka hendaklah dia mendapatkannya semula daripada orang yang telah membelinya jika masih ada di tangan pembeli dan dia hendaklah memulangkan harga belian yang diterimanya. Jika tiada lagi di tangan pembeli, umpamanya sudah disembelihnya, maka wajib baginya mengadakan nilaian harga yang lebih mahal daripada harga waktu dia memiliki yang dahulu, dan hendaklah dia membeli semula dengan nilaian itu binatang korban yang sama jenisnya dan sama umurnya untuk disembelih pada tahun itu juga.
Jika luput dia daripada menyembelihnya, maka wajib ke atasnya menyembelih binatang korban wajib itu pada tahun hadapannya sebagai qadha yang luput itu. Jika harga binatang korban itu (yang sama jenis dan umur dengan yang dahulu) lebih mahal kerana naik harga dan harga nilaian itu tidak mencukupi untuk membeli binatang yang sama dengan yang dahulu itu hendaklah ditambahnya dengan hartanya yang lain. Begitulah juga hukumnya jika binatang itu tidak disembelih setelah masuk Hari Raya Adha dan binatang itu binasa dalam tempoh tersebut.
Jika binatang korban wajib itu rosak, umpamanya mati atau dicuri orang sebelum masuk waktu berkorban dan bukan kerana kecuaiannya, tidaklah wajib dia menggantinya.
Manakala jika ia dibinasakan oleh orang lain, maka hendaklah orang yang membinasakan itu mengganti harga binatang korban wajib itu kepada orang yang punya korban dan dia hendaklah membeli semula binatang yang sama seperti yang dahulu, jika tidak diperolehi binatang yang sama, hendaklah dibelinya yang lain sahaja sebagai ganti.
Adapun jika binatang korban wajib itu disembelih sebelum masuk waktu korban, wajiblah disedekahkan kesemua dagingnya dan tidak boleh bagi orang yang berkorban wajib itu memakan dagingnya walaupun sedikit dan wajib pula menyembelih yang sama dengannya pada hari korban itu sebagai ganti.
Jika binatang korban yang telah ditentukan dalam korban wajib itu menjadi cacat (‘aib) setelah dinazarkan dan sebelum masuk waktu menyembelihnya dan kecacatan binatang itu adalah cacat yang tidak boleh dibuat korban pada asalnya, maka tidaklah disyaratkan menggantinya dan tidaklah terputus hukum wajib menyembelihnya dengan adanya cacat tersebut. Bahkan jika disembelihnya pada Hari Raya Adha adalah memadai (boleh dibuat) sebagai korban.
Sekiranya binatang yang dalam keadaan cacat itu disembelih sebelum Hari Raya Adha hendaklah disedekahkan dagingnya itu dan tidak wajib menggantinya dengan binatang yang sama untuk disembelih pada Hari Raya Adha itu. Tetapi wajib bersedekah nilaian harga binatang yang disembelih itu.
Jika kecacatan itu berlaku setelah Hari Raya Adha dan disembelih dalam keadaan yang demikian, maka tidaklah ia memadai (tidak memenuhi syarat) sebagai korban, kerana ia telah menjadi barang jaminan selagi belum disembelih, dan wajib diganti dengan yang baru.
Tidak sah dibuat korban bagi orang yang hidup melainkan dengan izinnya, dan tidak sah juga dibuat korban bagi orang yang telah mati jika simati tidak berwasiat untuk berbuat demikian.
Orang yang membuat korban bagi simati dengan izinnya (yakni dengan wasiatnya) wajiblah atasnya bersedekah kesemuanya. Tidak ada bahagian untuk dirinya atau orang-orang dibawah tanggungannya (nafkah), kerana ianya merupakan orang yang menerima dan orang yang menyerah. (Matla al-Badrain)
Bapa atau datuk boleh melaksanakan korban bagi orang yang diwalikan seperti anak dan cucunya dengan diambil perbelanjaan daripada harta ayah atau datuk atau anak atau cucu itu sendiri.
5. WAKTU MELAKSANAKAN IBADAH KORBAN
Waktu penyembelihan korban bermula sesudah matahari terbit pada 10 Zulhijjah (Hari Raya Haji) dan sesudah kadar selesai solat dua rakaat solat hari raya dan dua khutbah pendek/ringan. Manakala yang afdhalnya adalah ketika matahari naik segalah. Waktu penyembelihan korban berlanjutan sehingga terbenamnya matahari 13 Zulhijjah.
Ringkasnya: 10 Zulhijjah – 13 Zulhijjah.
Jika binatang korban disembelih selepas berakhirnya hari Tasyriq (setelah berlalunya hari Tasyriq yang terakhir) sembelihan itu tidak dianggap sebagai korban kerana dilakukan setelah berlalu masa yang diharuskan. Tetapi bagi korban wajib (korban nazar) yang masih belum disembelih di dalam waktunya yang diharuskan, sehingga habis masa, ia wajib menyembelih binatang itu (walaupun diluar waktu) dan sembelihan itu dikira qadha.
(I’aanah at-Tholibin, Juz 2; hal: 331)
6. JENIS-JENIS BINATANG YANG BOLEH DIJADIKAN KORBAN SERTA SYARAT-SYARATNYA
Binatang yang sah disembelih untuk dibuat korban itu ialah binatang korban itu hendaklah binatang ternakan (an‘am) seperti:
* unta atau yang sejenisnya,
* lembu atau yang sejenisnya
* kerbau atau yang sejenisnya dan
* kambing atau yang sejenisnya seperti biri-biri dan kibasy.
Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:
Maksudnya:“Dan bagi tiap-tiap umat telah kami syari‘atkan ibadat menyembelih korban supaya mereka menyebut nama Allah sebagai bersyukur akan pengurniaanNya kepada mereka daripada binatang-binatang ternak yang disembelih itu”.(Surah al-Hajj: 34)
Seekor unta, lembu atau kerbau itu boleh dikongsi oleh tujuh orang sama ada daripada keluarga yang sama atau yang lain walaupun tidak semuanya bermaksud aqiqah, misalnya ada di antaranya bermaksud aqiqah dan yang lainnya kerana mahukan dagingnya sahaja ataupun daging korban. Ini dijelaskan dalam sebuah hadis:
Maksudnya:“Kami keluar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam (dari Madinah) mengucapkan tahlil (Lailahaillallah), dengan berniat untuk mengerjakan haji, maka Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh kami berkongsi pada unta dan lembu, setiap tujuh orang daripada kami bagi seekor badanah”.(Hadis riwayat Muslim)
Seekor kambing pula hanya untuk seorang sahaja tidak boleh dikongsikan. Jika dikongsikan seekor kambing itu untuk dua orang atau lebih, maka tidak sah korban tersebut.
Afdhalnya binatang yang dibuat korban itu yang berwarna putih, kemudian yang berwarna kuning, kemudian yang putih tetapi yang tiada bersih putihnya, kemudian yang sebahagian badannya berwarna putih, kemudian yang sebahagian berwarna hitam, kemudian berwarna hitam semuanya, kemudian yang berwarna merah semuanya.
Binatang itu hendaklah cukup umur. Dari Jabir bin Abdillah r.a, sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:
Maksudnya: “Jangan kamu menyembelih korban melainkan yang telah musinnah kecuali jika kamu sukar mendapatkannya, maka sembelihlah anak daripada biri-biri.” (Hadis riwayat Muslim)
Adapun musinnah itu ialah ats-tsaniy (yang gugur gigi hadapannya) daripada binatang ternakan unta, lembu dan kambing. Maka ukuran umur bagi binatang korban itu ialah:
*
o Unta yang gugur gigi hadapannya ialah yang telah sempurna umurnya lima tahun dan masuk tahun keenam.
o Lembu, kerbau dan kambing yang gugur gigi hadapannya ialah yang telah sempurna umurnya dua tahun dan masuk tahun ketiga.
o Manakala kambing biri-biri dan kibasy memadai yang berumur cukup satu tahun atau yang gugur gigi hadapannya walaupun belum cukup umurnya satu tahun dengan syarat telah melimpasi umurnya enam bulan.
(Al-Majmu‘ 8/286-287 dan I‘anah ath-Thalibin 2/518)
Dari Abu Hurairah r.a, Nabi saw bersabda bermaksud:“Binatang korban yang paling bagus adalah jadza kambing” (Hadith riwayat Termizi dan Ahmad)
Uqbah bin Amir telah bertanya kepada Rasulullah saw, maksudnya: “Wahai Rasulullah, aku mempunyai jadza. Rasulullah menjawab: Berkorbanlah dengannya.”(Hadith riwayat Bukhari dan Muslim)
Menurut Imam Syafie kalimah jadza dalam hadith-hadith diatas itu bermaksud kambing biri-biri yang berumur satu tahun.
Dan menurut Imam Nawawi: Keseluruhan ulama mazhab telah mengharuskan anak biri-biri yang berumur satu tahun (untuk korban) meskipun ia mendapat binatang lain ataupun tidak.
Didalam kitab Hasyiah al-Baijuri, Juz 2, halaman 306, ada menyebut “Mengikut pendapat yang rajih, apabila biri-biri yang belum sampai umur satu tahun tetapi telah bersalin giginya selepas ia berumur enam bulan maka boleh dibuat korban.”
Binatang jantan yang tidak banyak berkahwin lebih afdhal dari binatang betina. Sebaliknya binatang betina yang belum melahirkan anak adalah lebih afdhal daripada binatang jantan yang banyak berkahwin untuk disembelih sebagai ibadat korban.
~~~~~~~ oOo ~~~~~~~
Yang lebih afdhal berbuat korban bagi seseorang itu dengan seekor unta, kemudian seekor lembu, kemudian seekor kibasy, kemudian seekor kambing, kemudian berkongsi seekor unta atau seekor lembu dan tujuh (7) ekor kambing lebih afdhal dari seekor unta dan seekor lembu atau kerbau.
Binatang terafdhal untuk dijadikan korban ialah unta, kemudian lembu kemudian biri-biri dan kemudian kambing. Ini dinisbahkan dengan banyaknya daging kepada setiap jenis binatang.
Tujuh (7) ekor biri-biri untuk korban adalah lebih afdhal daripada tujuh (7) ekor kambing untuk korban. Manakala tujuh (7) ekor kambing adalah lebih afdhal daripada satu ekor unta untuk korban kerana bertambahnya taqarrubnya kepada Allah dengan banyaknya darah yang mengalir daripada sembelihan binatang korban.
~~~~~~~ oOo ~~~~~~~
Binatang korban itu hendaklah sihat (tidak berpenyakit) dan selamat daripada kecacatan atau aib yang boleh mengurangkan daging atau lemaknya atau anggota lain yang boleh dimakan. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:
Maksudnya: “Empat perkara yang tidak boleh ada pada binatang korban itu, lalu Baginda bersabda: “Buta yang nyata butanya, sakit yang nyata penyakitnya, tempang yang nyata tempangnya dan yang kurus dan lemah.” (Hadis riwayat Abu Daud)
Daripada hadis di atas dapat difahami bahawa binatang yang tidak sah dijadikan korban itu ialah:
a.
Binatang yang buta atau rosak matanya atau yang tidak dapat melihat sekalipun biji matanya masih ada. Jika matanya itu ada sedikit kecacatan seperti sedikit rabun tetapi ia masih boleh melihat, maka ia sah dibuat korban.
b.
Binatang yang jelas tempang kakinya yang mana jika ia berjalan bersama-sama sekumpulan kawan-kawan binatang yang lain di padang untuk mencari makan, ia tidak boleh ikut berjalan bersama dengan binatang-binatang itu, bahkan ia tertinggal jauh di belakang. Jika tempangnya itu sedikit iaitu tempang yang tidak menghalang daripada mengikuti kawan-kawannya, maka ia sah dibuat korban.
c.
Binatang yang nyata sakitnya sehingga menjadikan binatang tersebut kurus dan kurang dagingnya. Tetapi jika sakitnya itu sedikit dan tidak mengurangi dagingnya maka ia sah dibuat korban.
d.
Binatang yang kurus sama ada kerana sakit, gila atau kurang makan dan sebagainya.
e.
Binatang yang telinganya terpotong walaupun sedikit atau yang tidak bertelinga sejak dilahirkan kerana telah hilang sebahagian anggota yang boleh dimakan dan mengurangkan dagingnya. Tetapi tidak mengapa jika telinganya koyak atau berlubang dengan syarat tidak gugur daripada dagingnya, walaupun sedikit.
f.
Binatang yang terpotong ekornya walaupun sedikit atau terpotong sebahagian lidahnya atau yang terpotong suatu yang nyata daripada pahanya. Adapun yang dilahirkan tanpa berekor sejak dilahirkannya adalah sah dibuat korban. (Sabilal Muhtadin 2/227)
g.
Binatang yang terpotong ekornya walaupun sedikit atau terpotong sebahagian lidahnya atau yang terpotong suatu yang nyata daripada pahanya. Adapun yang dilahirkan tanpa berekor sejak dilahirkannya adalah sah dibuat korban. (Sabilal Muhtadin 2/227)
h.
Binatang yang gugur semua giginya sehingga menghalangnya makan rumput. Adapun yang tanggal sebahagian giginya dan tidak menghalangnya makan rumput dan tidak mengurangkan dagingnya (tidak kurus) ia boleh dibuat korban. (Muhammad Asy-Syarbibi, Al-Iqna’ fi hilli al-Faaz Abi Syuja’, Juz 2, halaman 280)
i.
Binatang yang berpenyakit gila atau yang kena penyakit kurap sekalipun sedikit.
j.
Binatang yang bunting kerana bunting itu mengurangkan dagingnya. (Al-Majmu‘ 8/293-2966 dan Mughni al-Muhtaj 4/520) Pendapat ini adalah muktamad. Mengikut Ibn al-Rif’ah memadai korban daripada binatang yang bunting. Bagi binatang yang baharu beranak boleh dibuat korban berdasarkan pendapat Ibnu Hajar dalam Tuhfah dan Ar-Ramli dalam Nihayah, manakala mengikut pendapat Khatib Syarbini dalam Mughni bahawa binatang tersebut tidak memadai dibuatkan korban. (Sabilul Muhtadin 2/213)
Binatang yang harus dibuat korban itu tidak kira samada jantan atau betina atau khuntha.
Binatang yang dikasi, sah dan harus dibuat korban, kerana dengan dikasi tubuhnya semakin bertambah gemuk. (Muhammad Asy-Syarbini, Al-Iqna’ fi hilli al-Faaz Abi Syuja’, Juz 2, halaman 280)
Tambahan: Ibnu Abbas r.huma berpendapat bahawa adalah memadai korban itu hanya dengan “menumpahkan darah” walaupun dengan binatang seumpama ayam atau itik, sebagaimana yang dikatakan oleh Midaani. Syeikh (guru) bagi Syeikh al-Bajuri menyuruh supaya bertaqlidkan kepada pendapat Ibn Abbas ini dan beliau mengqiaskan ‘aqiqah keatas korban dan menyuruh sesiapa [yang tak mampu] yang memperolehi anak membuat aqiqah dengan ayam jantan berdasarkan kepada mazhab Ibn Abbas. (Hasyiah al-Allamah Baijuri & Matla al-Badrain) – Yang ni bagi mereka yang tersangat tak mampu.
7. CARA MENYEMBELIH BINATANG KORBAN
Cara menyembelih binatang korban itu ialah dengan memotong kesemua halqum dan mari’ sehingga putus dengan alat yang tajam seperti pisau (bukan tulang atau kuku). Halqum itu ialah tempat keluar masuk nafas dan urat mari’ itu pula ialah tempat laluan makanan dan minuman yang terletak di bawah halqum.
Adalah wajib bagi orang yang menyembelih itu memotong halqum dan mari’ itu. Jika ditinggalkan sebahagian daripada halqum atau mari’ itu (belum putus) dan mati binatang tersebut dalam keadaan yang demikian, maka tiada sempurna sembelihan itu dan ia adalah dikira bangkai. Begitu juga jika telah berhenti gerak binatang yang disembelih itu padahal halqum atau mari’ belum putus, kemudian dipotong semula halqum atau mari’ yang tertinggal itu, maka yang demikian itu pun adalah menjadi bangkai (tidak boleh dimakan).
Disyaratkan binatang yang disembelih itu ada hayat mustaqirrah ketika mula-mula disembelih iaitu ia akan hidup jika tidak disembelih ketika itu. Di antara tanda adanya hayat mustaqirrah itu ialah kuat geraknya ketika dipotong halqum dan mari’nya, dan menyembur darahnya. Mengikut Imam An-Nawawi memadai dengan kuat geraknya ketika disembelih.
Ketika hendak menyembelih binatang korban, sunat dibaca seperti berikut:
Allahu akbar! Allahu akbar! Allahu akbar! Bismillah, Allahuma solli ‘ala Muhammad, Allahumma haazihi minka wa ilaika fataqabbal minni, Allahu akbar! Allahu akbar! Allahu akbar! Walillahil hamd
Maksudnya: Allah Maha Besar! Allah Maha Besar! Allah Maha Besar! Dengan Nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Ya Allah Ya Tuhanku kurniakan selawat dan rahmat keatas Sayyidina Muhammad. Ya Allah ya Tuhanku, Ini korban daripada Engkau dan kembali kepada Engkau, maka terimalah korban daripada hamba. Allah Maha Besar! Allah Maha Besar! Allah Maha Besar! Dan kepada Allah lah kembali segala pujian.
Binatang yang panjang lehernya seperti unta, sunat disembelih di pangkal leher yang bawah (berhampiran dada) dengan memotong halqum dan mari’, kerana mengikut sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Yang demikian itu juga akan memudahkan roh binatang itu keluar. Sementara binatang yang pendek lehernya seperti lembu, kerbau dan kambing disembelih di hujung leher (yang atas).
Sunat disembelih lembu, kerbau atau kambing dengan dibaringkan binatang itu di atas tanah sebelah rusuk kirinya dan diikat kakinya, sementara kaki kanannya bebas lepas tanpa diikat supaya binatang itu dapat berehat dengan menggerakkan kaki kanannya itu. Sementara unta pula, sunat disembelih dengan didirikan binatang itu. Jika tidak mampu untuk disembelih dalam keadaan unta tersebut berdiri, maka sembelihlah dalam keadaan unta itu duduk. (Mughni al-Muhtaj: 4/341)
Sunat ditajamkan mata pisau bagi sembelih dan disembelih dengan kuat bersungguh-sungguh dan mengadap kiblat oleh yang menyembelih dan dihalakan ke kiblat akan binatang yang akan disembelih itu kerana kiblat itu semulia-mulia pihak.
Sunat diberi binatang itu minum sebelum ia disembelih. Kemudian sunat dibaringkan binatang itu dengan keadaan lemah lembut. Jangan diasah pisau sembelih dan jangan disembelih binatang yang lain di hadapan binatang yang akan disembelih itu.
Sunat dibiarkan binatang itu setelah disembelih sehingga ia mati.
Untuk kupasan lebih terperinci mengenai sembelihan, sila rujuk pada kitab-kitab feqah mengenai bab sembelihan.
8. PENAGIHAN DAGING KORBAN .
Daging Korban Wajib:
Bagi korban wajib (korban nazar), maka yang demikian itu wajib disedekahkan semua daging sembelihan itu termasuk kulit dan tanduknya.
Dan haram atas orang yang berkorban wajib itu memakan daging tersebut walaupun sedikit. Jika dimakannya daging tersebut, maka wajib diganti kadar yang telah dimakannya itu, tetapi tidak wajib dia mentembelih binatang lain sebagai ganti.
Jika orang yang berkorban itu melambat-lambatkan pembahagian daging korban wajib tersebut sehingga rosak, maka wajib ke atas orang yang berkorban itu bersedekah dengan harga daging itu dan tidaklah wajib dia membeli yang baharu sebagai gantinya kerana telah dikira memadai dengan sembelihan tersebut.
Jika daging korban itu ialah korban disebabkan wasiat daripada seseorang yang telah meninggal dunia, maka tidak boleh dimakan dagingnya oleh orang yang membuat korban untuknya dan tidak boleh dihadiahkan kepada orang kaya kecuali ada izinnya.
Daging Korban Sunat:
Sebagaimana yang kita ketahui berkorban itu hukumnya sunat mu’akkadah (sunat yang sangat dituntut). Jumhur ulama juga mengatakan ia adalah sunat bagi orang yang mampu. Makruh bagi orang yang mampu itu jika dia tidak melakukan korban. Walau bagaimanapun jika ditinggalkannya tanpa sebarang keuzuran, tidaklah dia berdosa dan tidak wajib dia mengqadhanya.
Sunat bagi orang yang empunya korban itu memakan sebahagian daripadanya. Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala yang bermaksud : “Maka makanlah daripadanya dan beri makanlah kepada orang-orang yang sangat fakir”. (Surah Al-Hajj: 28)
Afdhalnya yang dimakan itu ialah hatinya, kerana telah diriwayatkan bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah makan sebahagian daripada hati binatang korbannya, tetapi makan di sini bukanlah bererti dia wajib memakannya.
Berdasarkan kepada ayat di atas, para ulama berpendapat bahawa selain daripada sunat dimakan, wajib pula disedekahkan sebahagian daripada daging korban sunat itu dalam keadaan mentah lagi basah kepada orang-orang fakir atau miskin yang Islam.
Ini bererti setiap orang yang berkorban sunat itu wajib menyediakan sebahagian daripada daging korbannya itu untuk disedekahkan kepada orang fakir dan miskin. Tidak memadai jika daging-daging korban itu dihadiahkan keseluruhannya kepada orang-orang kaya misalnya. Hal inilah yang wajib diketahui oleh setiap orang yang berkorban.
Harus bagi orang yang berkorban itu membahagikan daging korbannya kepada tiga bahagian; satu pertiga (1/3) untuk dimakan, satu pertiga (1/3) untuk disedekahkan kepada fakir dan miskin dan satu pertiga (1/3) lagi untuk dihadiahkan kepada orang kaya.
Namun yang afdhalnya adalah disedekahkan semuanya, melainkan dimakannya sedikit sahaja iaitu kadar beberapa suap untuk mengambil berkat daripadanya, kerana yang demikian itu lebih mendekatkan diri kepada taqwa dan jauh daripada sifat mementingkan diri sendiri.
Sekalipun sah korban sunat seseorang itu, jika dimakan kesemua daging korbannya dan tiada sedikit pun disedekahkan kepada orang fakir atau miskin, tetapi wajib didapatkan atau dibeli daging-daging yang lain kadar yang wajib disedekahkan sebagai ganti.
Memberikan daging korban sunat sebagai hadiah kepada orang kaya Islam adalah harus. Walau bagaimanapun hadiah itu setakat untuk dimakan sahaja, bukan untuk tujuan memilikinya. Ini bererti dia tidak boleh menjualnya, menghibahkannya atau sebagainya kecuali menyedekahkannya kepada fakir atau miskin. Berlainan halnya dengan orang fakir dan miskin, di mana daging yang disedekahkan kepadanya itu adalah menjadi milik mereka. Mereka diharuskan menjual daging tersebut atau menghibahkan (memberikan) kepada orang lain.
Satu perkara lagi yang wajib kita ketahui ialah hukum haram menyedekah dan menghadiahkan daging korban kepada orang kafir sekalipun dia kaum kerabat, sama ada ia korban wajib atau sunat sekalipun sedikit kerana ia adalah perkara yang berhubung dengan ibadat. Didalam kitab Matla’ al-Badrain: 81 “… haram hukumnya memberi, menghadiahkan atau menjual daging qurban tersebut kepada orang bukan Islam, sekalipun fakir miskin itu terdiri daripada kafir zimmi”. Oleh sebab itu, sekiranya ada bahagian daging tersebut yang diberikan, dihadiahkan atau dijual kepada orang bukan Islam, maka wajib diganti dengan daging yang lain sekira-kira menyamai kadar berkenaan.
Kulit atau daging binatang korban itu haram dijadikan upah kepada penyembelih, tetapi harus diberikan kepadanya dengan jalan sedekah jika penyembelih itu orang miskin atau hadiah jika dia bukan orang miskin.
Sepertimana yang dijelaskan di atas, bahagian yang wajib disedekahkan itu hendaklah ia daging yang masih basah dan mentah. Ini bererti tidak memadai jika bahagian yang disedekahkan itu bukan daging seperti kulit, hati, tanduk dan sebagainya. Begitu juga tidak memadai jika daging tersebut dimasak kemudian dipanggil orang-orang fakir dan miskin untuk memakannya kerana hak fakir dan miskin itu bukan pada makan daging tersebut, tetapi adalah memiliki daging berkenaan dan bukan memilikinya dalam keadaan yang telah dimasak.
9. MENYEMBELIH BINATANG KORBAN DI LUAR NEGERI DAN DAGINGNYA DIAGIHKAN KE NEGERI YANG LAIN
Apa yang dimaksudkan dengan memindahkan daging korban itu ialah memindahkan daging korban dari negeri tempat penyembelihannya ke negeri lain, supaya daging korban itu dibahagi-bahagikan kepada mereka yang berhak di negeri berkenaan itu.
Adakah harus bagi orang-orang tempatan berwakil untuk berkorban di luar negeri dan daging korban itu dipindahkan daripada tempat korban ke negeri atau daerah lain?
As-Sayyid Al-Bakri Ad-Dumyathi, Pengarang Hasyiah I‘anah At-Thalibin menjelaskan bahawa telah dijazamkan dalam An-Nihayah bahawa haram memindahkan daging korban daripada tempat berkorban itu seperti mana juga zakat, sama ada korban sunat atau wajib. Adapun yang dimaksudkan daripada korban sunat itu ialah bahagian yang wajib disedekahkan kepada fakir miskin.
Manakala memindahkan wang daripada satu negeri ke negeri yang lain untuk membeli binatang korban adalah di haruskan seperti mana katanya yang ertinya : “Adapun memindah wang dirham daripada satu negeri ke negeri yang lain untuk membeli dengannya binatang korban di negeri tersebut maka ia adalah harus.” (I‘anat At-Thalibin: 2/380)
As-Syeikh Mohammad bin Sulaiman Al-Kurdi pernah ditanya :
“Sudah menjadi kebiasaan orang-orang Jawi (kepulauan Melayu) berwakil kepada seseorang untuk membeli na‘am (seperti lembu dan kambing) di Mekkah untuk dijadikan aqiqah dan korban sedangkan orang yang hendak beraqiqah atau berkorban itu berada di negeri Jawi. Adakah sah perbuatan sedemikian atau tidak, mohon fatwakan kepada kami.
Jawapan: Ya! Sah yang demikian itu dan harus berwakil membeli binatang korban dan aqiqah dan begitu juga untuk menyembelihnya sekalipun di negeri yang bukan negeri orang yang berkorban dan beraqiqah itu.” (I‘anah At-Thalibin: 2/381)
Dalam perkara ini pengarang Kitab Sabil Al-Muhtadin pula menyebutkan: “Kata Syeikhi Muhammad bin Sulaiman: Harus berwakil pada membeli na‘am akan korban pada negeri yang lain dan pada menyembelih dia dan pada membahagikan dagingnya bagi segala miskin negeri itu intaha. Maka iaitu zahir sama ada negeri Mekkah atau lainnya tetapi jangan dipindahkan dagingnya daripada negeri tempat berkorban kepada negeri yang lain maka iaitu haram lagi akan datang kenyataannya dan sayuginya hendaklah yang berwakil menyerahkan niat korban kepada wakil pada masalah ini wallahu ‘alam. (Sabil Al-Muhtadin: 214)
Katanya lagi jikalau berwakil seorang akan seorang pada berkorban di negeri lain kerana menghasilkan murah umpamanya hendaklah disedekahkan oleh wakil akan dagingnya bagi fakir miskin negeri itu dan janganlah dipindahkannya akan sesuatu daripada dagingnya daripada negeri itu kepada negeri yang berwakil melainkan sekadar yang sunat ia memakan dia itupun jika ada korban itu sunat (adapun) jika ada korban itu wajib maka wajiblah atas wakil mensedekahkan sekeliannya kepada fakir di dalam negeri tempat berkorban itu (dan haram) atasnya memindahkan suatu daripadanya ke negeri yang lain. (Sabil Al-Muhtadin: 216)
Berdasarkan perkataan para ulama seperti yang dinukilkan di atas, adalah jelas bahawa hukumnya harus berwakil untuk membeli binatang korban di negeri yang lain dan menyembelihnya serta membahagikan daging tersebut kepada fakir miskin di negeri berkenaan.
Adapun memindahkan daging korban daripada tempat sembelihan ke negeri yang lain itu adalah berhubungkait dengan hukum menyedekahkan daging korban itu:
I.
Jika korban itu adalah korban wajib yang mana kesemua dagingnya wajib disedekahkan kepada fakir miskin dalam keadaan mentah, maka haram hukumnya memindahkan daging korban berkenaan daripada tempat sembelihan. Inilah pendapat jumhur ulama Syafi‘eyah.
II.
Jika korban itu korban sunat di mana sebahagian daripada daging korban itu harus dihadiahkan atau dimakan oleh orang yang berkorban, maka bahagiannya (hak orang yang berkorban) itu sahaja yang harus dipindahkan ke negeri lain. Manakala bahagian yang wajib disedekahkan kepada fakir miskin itu wajib disedekahkan di tempat berkorban itu juga dan haram dipindahkan ke negeri lain.
(I‘anah At-Thalibin: 2:380)
Maka sebagi jalan keluar, adalah lebih munasabah menjalankan sembelihan korban bagi pihak yang berwakil terus sahaja ditempat-tempat atau negeri-negeri yang akan diagihkan daging korban itu. Dengan ini dapat dielakkan hukum pemindahan daging korban daripada tempat sembelihan ke negeri lain. Kalau diperhatikan sekarang terdapat egen-egen yang mengelolakan ibadah korban diluar Malaysia seperti di Kampuchea, Vietnam, Ambon dll, dimana urusan penyembelihan dan pengagihan daging korban dilakukan ditempat-tempat tersebut.
10.
HUKUM BERWAKIL MEMBELI DAN MENYEMBELIH KORBAN
Sepertimana kebiasaan di negara kita ibadat korban itu dilaksanakan dengan berkumpulan sama ada atas nama kementerian, jabatan, persatuan, kampung dan sebagainya. Kadang-kadang ibadat korban itu sudah menjadi projek tahunan bagi pihak-pihak yang berkenaan itu.
Jika dilihat daripada amalan kebiasaan bagi perlaksanaan ibadah korban itu, kumpulan tersebut akan menentukan wakil mereka untuk mengurus pembelian, penyembelihan binatang korban dan pengagihan dagingnya di pusat-pusat penyembelihan. Jika ditinjau dari segi hukum, perlaksanaan yang sedemikian itu melibatkan hukum wakalah iaitu berwakil.
11.
HURAIAN UMUM MENGENAI WAKALAH
Wakalah dari segi bahasa bererti menyerahkan kuasa, pengawasan, penjagaan dan pemeliharaan. Dari segi istilah fiqh pula ialah seseorang itu menyerahkan sesuatu perkara ketika hidupnya kepada orang lain agar melakukannya dalam hal-hal yang boleh diwakilkan.
Hukum wakalah adalah harus berdasarkan Al-Qur’an, sunnah dan ijma‘ ulama.
Wakalah mempunyai empat rukun iaitu:
i.
Muwakkil (orang yang berwakil)
ii.
Muwakkal (orang yang dijadikan wakil)
iii.
Muwakkal fihi (sesuatu yang diwakilkan)
iv.
Shighah (ijab dan qabul).
(I‘anah At-Thalibin: 3/100-101)
12.
SHIGHAH DALAM WAKALAH
Apa yang ingin dihuraikan di sini ialah rukun yang keempat iaitu shighah di mana perkara ini sangat penting diketahui demi menjaga keshahihan ibadah korban berkenaan.
Disyaratkan ijab ke atas orang yang berwakil itu dengan melafazkan sesuatu perkataan sama ada secara sharih (jelas atau terang) ataupun kinayah (yang tidak terang atau tidak jelas) seperti dalam kitabah (penulisan), persuratan atau dengan isyarat jika yang berwakil itu orang bisu yang boleh difahami, yang menyatakan bahawa orang yang berwakil itu adalah dengan keredhaan hatinya. (Majmuk: 14/197)
Ini bererti ada interaksi antara orang yang berwakil dengan orang yang diwakilkan yang dinamakan aqad. Namun orang yang dijadikan wakil itu tidak disyaratkan baginya qabul (ucap terima), kecuali di dalam keadaan tertentu seperti jika dalam perwakilan itu dengan upah. Contohnya orang yang berwakil itu mewakilkan seseorang untuk menjualkan sebidang tanahnya dengan harga sekian dan memberi upah kepada wakilnya itu. Maka dalam keadaan ini, wakil itu hendaklah melafazkan qabulnya sama ada dia menerimanya ataupun tidak. Adapun yang disyaratkan bagi orang yang dijadikan wakil itu ialah dia tidak menolak ucapan atau lafaz orang yang berwakil itu. Jika orang yang dijadikan wakil itu menolak ucapan tersebut, seperti dia berkata: “aku tidak terima” atau seumpamanya, maka batal dan tidak sah akad perwakilan itu.
Jika dilihat ketentuan hukum dalam bab wakalah dan dipraktikkan dengan cara kebiasaan yang tersebut di atas oleh sebahagian kumpulan yang berkorban itu ditakuti tidak menepati kehendak sebenar hukum wakalah. Pada kebiasaannya, orang-orang yang hendak menyertai ibadat korban akan mendaftarkan namanya dan membayar kadar tertentu bagi tujuan tersebut tanpa disertai dengan lafaz tawkil kepada wakil yang dilantik.
Amalan tersebut tidak memenuhi kehendak hukum berwakil kerana jika dilihat kepada tuntutan bab wakalah orang yang berwakil itu wajib melafazkan tawkilnya (akad) sama ada dengan lafaz yang sharih atau kinayah kepada wakil yang ditentukan bagi tujuan seperti membeli dan menyembelih binatang korban serta mengagihkan daging korban tersebut.
13.
MELANTIK WAKIL KEDUA
Dalam bab wakil ini, para ulama fiqh juga berpendapat bahawa orang yang dijadikan wakil itu harus mewakilkan lagi kepada orang lain untuk menjadi wakil yang kedua tanpa perlu mendapat izin daripada orang yang berwakil. Itu pun jika perkara yang diwakilkan itu tidak dapat dikerjakan oleh wakil itu sendiri, disebabkan dia tidak layak melakukannya atau tidak berkemampuan mengerjakannya. Akan tetapi jika sebaliknya, iaitu dia mampu untuk melaksanakan perkara yang diwakilkan ke atasnya itu, maka tidak harus baginya melantik orang lain menjadi wakil yang kedua melainkan dengan izin orang yang berwakil.
(Majmuk: 14/218)
14.
MEWAKILKAN SEMBELIHAN BINATANG KORBAN
Menurut hukum asal berkorban itu bahawa sunat binatang yang hendak dijadikan korban itu disembelih oleh orang yang berkorban itu sendiri, kiranya dia pandai menyembelih. Walaupun begitu boleh juga dia mewakilkan orang lain untuk menyembelih korban itu dan hadir ketika penyembelihannya. Afdhalnya wakil itu ialah orang Islam yang mengetahui akan hukum-hakam mengenai korban.
Keharusan berwakil dalam ibadah korban itu diambil daripada perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah berkorban dengan seratus ekor unta, di mana Baginda sendiri menyembelih – dengan tangan Baginda yang mulia – enam puluh tiga ekor, kemudian Baginda menyerahkan pisau penyembelih itu kepada Sayyidina Ali Karramallahu wajhah untuk menyembelih bakinya
15. PERSOALAN NIAT KORBAN
Disyaratkan orang yang berkorban itu berniat kerana korban ketika menyembelih, kerana ia ibadat dan harus juga mendahulukan niat itu sebelum menyembelih mengikut pendapat yang ashah.
Adalah memadai jika orang yang berwakil itu berniat ketika wakilnya menyembelih korbannya dengan hadir orang yang berwakil ketika itu. Dalam hal ini, niat orang yang berwakil itu adalah memadai dan wakil tidak perlu lagi berniat. Walau bagaimanapun adalah lebih baik orang yang berwakil itu, ketika menyerahkan korban, menyuruh wakilnya berniat bagi pihak dirinya ketika dia menyembelih korban tersebut.
Apa yang mesti diambil perhatian dalam hal berniat korban ini, ada baiknya ditentukan niat itu umpamanya sebagai korban sunat, bagi mengelakkan niat itu menjadi korban wajib, kerana haram bagi yang berkorban itu makan daripada daging korban wajib, bahkan wajib disedekahkan semua daging tersebut kepada fakir miskin.
Lafaz Niat Dan Tawkil Dalam Korban
Niat itu tempatnya di hati dan sunat melafazkannya dengan lidah. Niat bagi korban sunat itu ialah seperti berikut:
Maksudnya: “Sahaja aku melakukan korban yang sunat”
Contoh lafaz berwakil:
“Buatkan korban/udhhiyyah sunat untuk saya”, atau
“Belikan korban sunat untuk saya”, yang bermakna: “Sembelihkan untuk saya, niatkan untuk saya.”
Contoh terima wakalah:
“Aku terima.”
16. PENUTUP
Oleh kerana hukum berkorban itu sunat mu’akkadah dan mempunyai kelebihan- kelebihannya yang banyak, sayugia jangan dilepaskan peluang untuk membuat amalan korban ini.
Supaya korban itu sempurna, fahamilah hukum-hakam yang berkaitan dengan ibadah korban itu. Begitu juga mengambil perhatian dalam memenuhi tuntutan-tuntutan lain yang berkaitan seperti berwakil membeli dan menyembelih sebagaimana yang dijelaskan di atas supaya amalan berkorban itu benar-benar menepati syara‘.
Selamat Menjalani Ibadah Korban
Allahu akbar! Allahu akbar! Allahu akbar! Allahu Akbar Walillahilhamd
Kamis, 05 November 2009
pengertian Web dan unsur-unsurnya versi 2
Pengertian Website dan Unsur-unsurnya
Oleh Hendra W Saputro
Menyambung tulisan tentang Internet yang lalu, dalam mengakses informasi dari dunia internet, pengguna akan menuju ke sebuah alamat unik internet yang disebut nama domain (Domain Name/URL – Uniform Resource Locator) dan menemukan informasi berbentuk teks, gambar, animasi bergerak ataupun suara dalam sebuah media, yang disebut dengan website atau situs. Website ini dibuka melalui sebuah program penjelajah (Browser) yang berada di sebuah komputer. Program penjelajah yang bisa digunakan dalam komputer diantaranya: IE (Internet Explorer), Firefox, Mozilla, Netscape, Safari, dan Opera.
Pengertian website atau situs.
Website atau situs dapat diartikan sebagai kumpulan halaman-halaman yang digunakan untuk menampilkan informasi teks, gambar diam atau gerak, animasi, suara, dan atau gabungan dari semuanya itu baik yang bersifat statis maupun dinamis yang membentuk satu rangkaian bangunan yang saling terkait dimana masing-masing dihubungkan dengan jaringan-jaringan halaman (hyperlink).
Hosting Indonesia
Unsur-unsur website atau situs.
Untuk menyediakan keberadaan sebuah website, maka harus tersedia unsur-unsur penunjangnya, adalah sebagai berikut:
1. Nama domain (Domain name/URL – Uniform Resource Locator)
Pengertian Nama domain atau biasa disebut dengan Domain Name atau URL adalah alamat unik di dunia internet yang digunakan untuk mengidentifikasi sebuah website, atau dengan kata lain domain name adalah alamat yang digunakan untuk menemukan sebuah website pada dunia internet. Contoh : http://www.baliorange.net, http://www.detik.com
Nama domain diperjualbelikan secara bebas di internet dengan status sewa tahunan. Nama domain sendiri mempunyai identifikasi ekstensi/akhiran sesuai dengan kepentingan dan lokasi keberadaan website tersebut. Contoh nama domain ber-ekstensi internasional adalah com, net, org, info, biz, name, ws. Contoh nama domain ber-ekstensi lokasi Negara Indonesia adalah co.id (untuk nama domain website perusahaan), ac.id (nama domain website pendidikan), go.id (nama domain website instansi pemerintah), or.id (nama domain website organisasi).
2. Rumah tempat website (Web hosting)
Pengertian Web Hosting dapat diartikan sebagai ruangan yang terdapat dalam harddisk tempat menyimpan berbagai data, file-file, gambar dan lain sebagainya yang akan ditampilkan di website. Besarnya data yang bisa dimasukkan tergantung dari besarnya web hosting yang disewa/dipunyai, semakin besar web hosting semakin besar pula data yang dapat dimasukkan dan ditampilkan dalam website.
Web Hosting juga diperoleh dengan menyewa. Besarnya hosting ditentukan ruangan harddisk dengan ukuran MB(Mega Byte) atau GB(Giga Byte). Lama penyewaan web hosting rata-rata dihitung per tahun. Penyewaan hosting dilakukan dari perusahaan-perusahaan penyewa web hosting yang banyak dijumpai baik di Indonesia maupun Luar Negri.
3. Bahasa Program (Scripts Program)
Adalah bahasa yang digunakan untuk menerjemahkan setiap perintah dalam website yang pada saat diakses. Jenis bahasa program sangat menentukan statis, dinamis atau interaktifnya sebuah website. Semakin banyak ragam bahasa program yang digunakan maka akan terlihat website semakin dinamis, dan interaktif serta terlihat bagus.
Beragam bahasa program saat ini telah hadir untuk mendukung kualitas website. Jenis jenis bahasa program yang banyak dipakai para desainer website antara lain HTML, ASP, PHP, JSP, Java Scripts, Java applets dsb. Bahasa dasar yang dipakai setiap situs adalah HTML sedangkan PHP, ASP, JSP dan lainnya merupakan bahasa pendukung yang bertindak sebagai pengatur dinamis, dan interaktifnya situs.
Bahasa program ASP, PHP, JSP atau lainnya bisa dibuat sendiri. Bahasa program ini biasanya digunakan untuk membangun portal berita, artikel, forum diskusi, buku tamu, anggota organisasi, email, mailing list dan lain sebagainya yang memerlukan update setiap saat.
4. Desain website
Setelah melakukan penyewaan domain name dan web hosting serta penguasaan bahasa program (scripts program), unsur website yang penting dan utama adalah desain. Desain website menentukan kualitas dan keindahan sebuah website. Desain sangat berpengaruh kepada penilaian pengunjung akan bagus tidaknya sebuah website.
Untuk membuat website biasanya dapat dilakukan sendiri atau menyewa jasa website designer. Saat ini sangat banyak jasa web designer, terutama di kota-kota besar. Perlu diketahui bahwa kualitas situs sangat ditentukan oleh kualitas designer. Semakin banyak penguasaan web designer tentang beragam program/software pendukung pembuatan situs maka akan dihasilkan situs yang semakin berkualitas, demikian pula sebaliknya. Jasa web designer ini yang umumnya memerlukan biaya yang tertinggi dari seluruh biaya pembangunan situs dan semuanya itu tergantung kualitas designer.
Publikasi website.
Keberadaan situs tidak ada gunanya dibangun tanpa dikunjungi atau dikenal oleh masyarakat atau pengunjung internet. Karena efektif tidaknya situs sangat tergantung dari besarnya pengunjung dan komentar yang masuk. Untuk mengenalkan situs kepada masyarakat memerlukan apa yang disebut publikasi atau promosi.
Publikasi situs di masyarakat dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti dengan pamlet-pamlet, selebaran, baliho dan lain sebagainya tapi cara ini bisa dikatakan masih kurang efektif dan sangat terbatas. Cara yang biasanya dilakukan dan paling efektif dengan tak terbatas ruang atau waktu adalah publikasi langsung di internet melalui search engine-search engine(mesin pencari, spt : Yahoo, Google, Search Indonesia, dsb)
Cara publikasi di search engine ada yang gratis dan ada pula yang membayar. Yang gratis biasanya terbatas dan cukup lama untuk bisa masuk dan dikenali di search engine terkenal seperti Yahoo atau Google. Cara efektif publikasi adalah dengan membayar, walaupun harus sedikit mengeluarkan akan tetapi situs cepat masuk ke search engine dan dikenal oleh pengunjung.
Pemeliharaan Website.
Untuk mendukung kelanjutan dari situs diperlukan pemeliharaan setiap waktu sesuai yang diinginkan seperti penambahan informasi, berita, artikel, link, gambar atau lain sebagainya. Tanpa pemeliharaan yang baik situs akan terkesan membosankan atau monoton juga akan segera ditinggal pengunjung.
Pemeliharaan situs dapat dilakukan per periode tertentu seperti tiap hari, tiap minggu atau tiap bulan sekali secara rutin atau secara periodik saja tergantung kebutuhan(tidak rutin). Pemeliharaan rutin biasanya dipakai oleh situs-situs berita, penyedia artikel, organisasi atau lembaga pemerintah. Sedangkan pemeliharaan periodik bisanya untuk situs-situs pribadi, penjualan/e-commerce, dan lain sebagainya.
- Diambil dari berbagai sumber – Kontributor oleh Hosting Indonesia
Oleh Hendra W Saputro
Menyambung tulisan tentang Internet yang lalu, dalam mengakses informasi dari dunia internet, pengguna akan menuju ke sebuah alamat unik internet yang disebut nama domain (Domain Name/URL – Uniform Resource Locator) dan menemukan informasi berbentuk teks, gambar, animasi bergerak ataupun suara dalam sebuah media, yang disebut dengan website atau situs. Website ini dibuka melalui sebuah program penjelajah (Browser) yang berada di sebuah komputer. Program penjelajah yang bisa digunakan dalam komputer diantaranya: IE (Internet Explorer), Firefox, Mozilla, Netscape, Safari, dan Opera.
Pengertian website atau situs.
Website atau situs dapat diartikan sebagai kumpulan halaman-halaman yang digunakan untuk menampilkan informasi teks, gambar diam atau gerak, animasi, suara, dan atau gabungan dari semuanya itu baik yang bersifat statis maupun dinamis yang membentuk satu rangkaian bangunan yang saling terkait dimana masing-masing dihubungkan dengan jaringan-jaringan halaman (hyperlink).
Hosting Indonesia
Unsur-unsur website atau situs.
Untuk menyediakan keberadaan sebuah website, maka harus tersedia unsur-unsur penunjangnya, adalah sebagai berikut:
1. Nama domain (Domain name/URL – Uniform Resource Locator)
Pengertian Nama domain atau biasa disebut dengan Domain Name atau URL adalah alamat unik di dunia internet yang digunakan untuk mengidentifikasi sebuah website, atau dengan kata lain domain name adalah alamat yang digunakan untuk menemukan sebuah website pada dunia internet. Contoh : http://www.baliorange.net, http://www.detik.com
Nama domain diperjualbelikan secara bebas di internet dengan status sewa tahunan. Nama domain sendiri mempunyai identifikasi ekstensi/akhiran sesuai dengan kepentingan dan lokasi keberadaan website tersebut. Contoh nama domain ber-ekstensi internasional adalah com, net, org, info, biz, name, ws. Contoh nama domain ber-ekstensi lokasi Negara Indonesia adalah co.id (untuk nama domain website perusahaan), ac.id (nama domain website pendidikan), go.id (nama domain website instansi pemerintah), or.id (nama domain website organisasi).
2. Rumah tempat website (Web hosting)
Pengertian Web Hosting dapat diartikan sebagai ruangan yang terdapat dalam harddisk tempat menyimpan berbagai data, file-file, gambar dan lain sebagainya yang akan ditampilkan di website. Besarnya data yang bisa dimasukkan tergantung dari besarnya web hosting yang disewa/dipunyai, semakin besar web hosting semakin besar pula data yang dapat dimasukkan dan ditampilkan dalam website.
Web Hosting juga diperoleh dengan menyewa. Besarnya hosting ditentukan ruangan harddisk dengan ukuran MB(Mega Byte) atau GB(Giga Byte). Lama penyewaan web hosting rata-rata dihitung per tahun. Penyewaan hosting dilakukan dari perusahaan-perusahaan penyewa web hosting yang banyak dijumpai baik di Indonesia maupun Luar Negri.
3. Bahasa Program (Scripts Program)
Adalah bahasa yang digunakan untuk menerjemahkan setiap perintah dalam website yang pada saat diakses. Jenis bahasa program sangat menentukan statis, dinamis atau interaktifnya sebuah website. Semakin banyak ragam bahasa program yang digunakan maka akan terlihat website semakin dinamis, dan interaktif serta terlihat bagus.
Beragam bahasa program saat ini telah hadir untuk mendukung kualitas website. Jenis jenis bahasa program yang banyak dipakai para desainer website antara lain HTML, ASP, PHP, JSP, Java Scripts, Java applets dsb. Bahasa dasar yang dipakai setiap situs adalah HTML sedangkan PHP, ASP, JSP dan lainnya merupakan bahasa pendukung yang bertindak sebagai pengatur dinamis, dan interaktifnya situs.
Bahasa program ASP, PHP, JSP atau lainnya bisa dibuat sendiri. Bahasa program ini biasanya digunakan untuk membangun portal berita, artikel, forum diskusi, buku tamu, anggota organisasi, email, mailing list dan lain sebagainya yang memerlukan update setiap saat.
4. Desain website
Setelah melakukan penyewaan domain name dan web hosting serta penguasaan bahasa program (scripts program), unsur website yang penting dan utama adalah desain. Desain website menentukan kualitas dan keindahan sebuah website. Desain sangat berpengaruh kepada penilaian pengunjung akan bagus tidaknya sebuah website.
Untuk membuat website biasanya dapat dilakukan sendiri atau menyewa jasa website designer. Saat ini sangat banyak jasa web designer, terutama di kota-kota besar. Perlu diketahui bahwa kualitas situs sangat ditentukan oleh kualitas designer. Semakin banyak penguasaan web designer tentang beragam program/software pendukung pembuatan situs maka akan dihasilkan situs yang semakin berkualitas, demikian pula sebaliknya. Jasa web designer ini yang umumnya memerlukan biaya yang tertinggi dari seluruh biaya pembangunan situs dan semuanya itu tergantung kualitas designer.
Publikasi website.
Keberadaan situs tidak ada gunanya dibangun tanpa dikunjungi atau dikenal oleh masyarakat atau pengunjung internet. Karena efektif tidaknya situs sangat tergantung dari besarnya pengunjung dan komentar yang masuk. Untuk mengenalkan situs kepada masyarakat memerlukan apa yang disebut publikasi atau promosi.
Publikasi situs di masyarakat dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti dengan pamlet-pamlet, selebaran, baliho dan lain sebagainya tapi cara ini bisa dikatakan masih kurang efektif dan sangat terbatas. Cara yang biasanya dilakukan dan paling efektif dengan tak terbatas ruang atau waktu adalah publikasi langsung di internet melalui search engine-search engine(mesin pencari, spt : Yahoo, Google, Search Indonesia, dsb)
Cara publikasi di search engine ada yang gratis dan ada pula yang membayar. Yang gratis biasanya terbatas dan cukup lama untuk bisa masuk dan dikenali di search engine terkenal seperti Yahoo atau Google. Cara efektif publikasi adalah dengan membayar, walaupun harus sedikit mengeluarkan akan tetapi situs cepat masuk ke search engine dan dikenal oleh pengunjung.
Pemeliharaan Website.
Untuk mendukung kelanjutan dari situs diperlukan pemeliharaan setiap waktu sesuai yang diinginkan seperti penambahan informasi, berita, artikel, link, gambar atau lain sebagainya. Tanpa pemeliharaan yang baik situs akan terkesan membosankan atau monoton juga akan segera ditinggal pengunjung.
Pemeliharaan situs dapat dilakukan per periode tertentu seperti tiap hari, tiap minggu atau tiap bulan sekali secara rutin atau secara periodik saja tergantung kebutuhan(tidak rutin). Pemeliharaan rutin biasanya dipakai oleh situs-situs berita, penyedia artikel, organisasi atau lembaga pemerintah. Sedangkan pemeliharaan periodik bisanya untuk situs-situs pribadi, penjualan/e-commerce, dan lain sebagainya.
- Diambil dari berbagai sumber – Kontributor oleh Hosting Indonesia
Pengertian Web
A. PENGERTIAN WEBSITE ATAU SITUS.
* Website atau situs juga dapat diartikan sebagai kumpulan halaman yang menampilkan informasi data teks, data gambar diam atau gerak, data animasi, suara, video dan atau gabungan dari semuanya, baik yang bersifat statis maupun dinamis yang membentuk satu rangkaian bangunan yang saling terkait dimana masing-masing dihubungkan dengan jaringan-jaringan halaman (hyperlink). Bersifat statis apabila isi informasi website tetap, jarang berubah, dan isi informasinya searah hanya dari pemilik website. Bersifat dinamis apabila isi informasi website selalu berubah-ubah, dan isi informasinya interaktif dua arah berasal dari pemilik serta pengguna website. Contoh website statis adalah berisi profil perusahaan, sedangkan website dinamis adalah seperti Friendster, Multiply, dll. Dalam sisi pengembangannya, website statis hanya bisa diupdate oleh pemiliknya saja, sedangkan website dinamis bisa diupdate oleh pengguna maupun pemilik.
B. UNSUR-UNSUR DALAM PENYEDIAAN WEBSITE ATAU SITUS.
Untuk menyediakan sebuah website, maka kita harus menyeediakan unsur-unsur penunjangnya, seperti halnya:
1. Nama domain (Domain name/URL - Uniform Resource Locator)
Nama domain atau biasa disebut dengan Domain Name atau URL adalah alamat unik di dunia internet yang digunakan untuk mengidentifikasi sebuah website, atau dengan kata lain domain name adalah alamat yang digunakan untuk menemukan sebuah website pada dunia internet. Contoh : http://www.nama situs .com
Nama domain diperjualbelikan secara bebas di internet dengan status sewa tahunan. Setelah Nama Domain itu terbeli di salah satu penyedia jasa pendaftaran, maka pengguna disediakan sebuah kontrol panel untuk administrasinya. Jika pengguna lupa/tidak memperpanjang masa sewanya, maka nama domain itu akan di lepas lagi ketersediaannya untuk umum. Nama domain sendiri mempunyai identifikasi ekstensi/akhiran sesuai dengan kepentingan dan lokasi keberadaan website tersebut. Contoh nama domain ber-ekstensi internasional adalah com, net, org, info, biz, name, ws. Contoh nama domain ber-ekstensi lokasi Negara Indonesia adalah :
* .co.id : Untuk Badan Usaha yang mempunyai badan hukum sah
* .ac.id : Untuk Lembaga Pendidikan
* .go.id : Khusus untuk Lembaga Pemerintahan Republik Indonesia
* .mil.id : Khusus untuk Lembaga Militer Republik Indonesia
* .or.id : Untuk segala macam organisasi yand tidak termasuk dalam kategori “ac.id”,”co.id”,”go.id”,”mil.id” dan lain lain
* .war.net.id : untuk industri warung internet di Indonesia
* .sch.id : khusus untuk Lembaga Pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan seperti SD, SMP dan atau SMU
* .web.id : Ditujukan bagi badan usaha, organisasi ataupun perseorangan yang melakukan kegiatannya di World Wide Web.
* Website atau situs juga dapat diartikan sebagai kumpulan halaman yang menampilkan informasi data teks, data gambar diam atau gerak, data animasi, suara, video dan atau gabungan dari semuanya, baik yang bersifat statis maupun dinamis yang membentuk satu rangkaian bangunan yang saling terkait dimana masing-masing dihubungkan dengan jaringan-jaringan halaman (hyperlink). Bersifat statis apabila isi informasi website tetap, jarang berubah, dan isi informasinya searah hanya dari pemilik website. Bersifat dinamis apabila isi informasi website selalu berubah-ubah, dan isi informasinya interaktif dua arah berasal dari pemilik serta pengguna website. Contoh website statis adalah berisi profil perusahaan, sedangkan website dinamis adalah seperti Friendster, Multiply, dll. Dalam sisi pengembangannya, website statis hanya bisa diupdate oleh pemiliknya saja, sedangkan website dinamis bisa diupdate oleh pengguna maupun pemilik.
B. UNSUR-UNSUR DALAM PENYEDIAAN WEBSITE ATAU SITUS.
Untuk menyediakan sebuah website, maka kita harus menyeediakan unsur-unsur penunjangnya, seperti halnya:
1. Nama domain (Domain name/URL - Uniform Resource Locator)
Nama domain atau biasa disebut dengan Domain Name atau URL adalah alamat unik di dunia internet yang digunakan untuk mengidentifikasi sebuah website, atau dengan kata lain domain name adalah alamat yang digunakan untuk menemukan sebuah website pada dunia internet. Contoh : http://www.nama situs .com
Nama domain diperjualbelikan secara bebas di internet dengan status sewa tahunan. Setelah Nama Domain itu terbeli di salah satu penyedia jasa pendaftaran, maka pengguna disediakan sebuah kontrol panel untuk administrasinya. Jika pengguna lupa/tidak memperpanjang masa sewanya, maka nama domain itu akan di lepas lagi ketersediaannya untuk umum. Nama domain sendiri mempunyai identifikasi ekstensi/akhiran sesuai dengan kepentingan dan lokasi keberadaan website tersebut. Contoh nama domain ber-ekstensi internasional adalah com, net, org, info, biz, name, ws. Contoh nama domain ber-ekstensi lokasi Negara Indonesia adalah :
* .co.id : Untuk Badan Usaha yang mempunyai badan hukum sah
* .ac.id : Untuk Lembaga Pendidikan
* .go.id : Khusus untuk Lembaga Pemerintahan Republik Indonesia
* .mil.id : Khusus untuk Lembaga Militer Republik Indonesia
* .or.id : Untuk segala macam organisasi yand tidak termasuk dalam kategori “ac.id”,”co.id”,”go.id”,”mil.id” dan lain lain
* .war.net.id : untuk industri warung internet di Indonesia
* .sch.id : khusus untuk Lembaga Pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan seperti SD, SMP dan atau SMU
* .web.id : Ditujukan bagi badan usaha, organisasi ataupun perseorangan yang melakukan kegiatannya di World Wide Web.
Langganan:
Komentar (Atom)